Tampilkan postingan dengan label Tips-tips Pengasuhan Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tips-tips Pengasuhan Anak. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Juli 2009

Agar Anak mau Mendengarkan




Omongan orang tua seringkali diabaikan anak, atau bahkan tidak didengarkan sama sekali. Untuk itu berikut ini adalah tips jitu agar anak mau mendengarkan perkataan Anda:

1. Jadilah Pendengar Yang Baik. Anak-anak tidak bisa belajar menjadi pendengar yang baik bila mereka tidak memiliki panutan yang baik. Pastikan Anda menunjukan apa yang Anda harapkan dari mereka dengan menjadi pendengar yang baik. Seperti pepatah tua, “Kita memiliki dua telinga dan satu mulut karena ada alasannya” maksudnya, dengarkan anak Anda bicara duakali lebih banyak daripada bicara Anda.

2. Berbicaralah Dengan Penuh Hormat. Bila Anda menjadi seorang Anak, bagaimana Anda ingin diajak berbicara? Gunakanharapan Anda itu sebagai modelnya.

3. Beri Perhatian Dulu, Baru Berbicara. Dapatkan perhatian anak terlebih dahulu. Pastikan mereka melihat Anda sebelum Anda berbicara. Secara verbal, Anda juga bisa meminta perhatiananak. Saat bertatapan, Anda mendapatkan perhatian penuh dari anak. Inilah saatnya Anda menyatakan permintaan.

4. Berikan Peringatan. Adakalanya sulit mengalihkan perhatian, terlebih saat mereka sedang melakukan sesuatu yang benarik. Beri batasan waktu kepada mereka. Contohnya, “Ayah/Ibu perlu bantuan kamu dua menit lagi ya,” atau “Ayah/Ibu ingin berbicara dengan kamu lima menit lagi ya.”

5. Turunkan Volume Suara. Daripada berteriak, lebih baik turunkan volume suara Anda. Bicaralah dengan nada lebih lembut, tidak keras.

6. Jangan Berpanjang Lebar. Anak tidak mau mendengar kuliah panjang lebar. Jadi ungkapkanlah permintaan Anda dengan singkat dan langsung, contohnya, “Bereskan tempat tisurmu sebelum bermain!” Kadan, irit kata-kata juga membantu. Cukup satu kata kadang bisa menjadi trik yang baik, misalnya, “PR!“

Kiat Atasi Kebiasaan Buruk Anak: Bicara dengan Gagap



“ A…ayah, mmmau booola”, mungkin anda pernah melihat anak yang begitu sulit bicara. Dikatakan gagap bila anak mengalami kelainan irama atau kelancaran bicara yang disebabkan adanya pengulangan, perpanjangan suara, kata, atau suku kata. Gagap biasa terjadi pada usia 2-3 tahun dan 5-7 tahun. Seringkali disertai dengan mengedip-ngedipkan mata atau menggoyang kepala.

Gagap sebenarnya bagian dari perkembangan bahasa yang normal, tetapi bila berlanjut atau berlebihan, bisa jadi ada faktor lain seperti gangguan emosi anak dengan orangtua yang perfeksionis. Bisa pula ada faktor keturunan atau kelainan organ seperti lidah yang pendek dan kaku. Gagap bisa disertai kelainan saraf seperti tuli atau retardasi mental.
Solusi

1. Jangan terlalu memaksa anak atau memarahi anak bila gagapnya kambuh. Dengarkan ia dengan sabar, tidak memberondongnya dengan pertanyaan atau kata-kata.
2. Tumbuhkan rasa percaya dirinya terutama saat ia bergaul dengan teman-teman sebaya.
3. Bila gagap muncul pada anak setelah usia sekolah, mungkin diperlukan terapi lebih lanjut dengan ahli wicara atau psikoterapis.

Kiat Atasi Kebiasaan Buruk Anak: Menghisap Ibu Jari


Mengisap ibu jari umum terjadi pada bayi usia 3 bulan-2 tahun. Jika kebiasaan ini terjadi setelah anak usia tiga tahun, padahal sebelumnya tidak atau sudah berhenti, bisa jadi si anak sedang stres dan perlu dicari penyebabnya. Bila kebiasaan mengisap ibu jari terus berlanjut hingga usia sekolah dasar dapat mengganggu pertumbuhan gigi, diare, dan yang terpenting mempengaruhi perkembangan kepribadiannya.
Solusi

* Bila si kecil masih bayi tak perlu terlalu khawatir. Namun jika sudah amat mengganggu coba ganti dengan empeng dan hentikan sedikit demi sedikit.
* Bila terjadi setelah usia satu tahun, mungkin si kecil sedang lelah atau bosan, alihkan kegiatannya.
* Bila terjadi pada usia 5-6 tahun, beri penjelasan akibat dari kebiasaan buruknya, anda dapat memberinya hadiah (reward) bila anak berhasil menghentikannya.
* Jika tetap saja sulit ditangani, sangat mungkin terdapat ketidakmatangan emosi dan sosial hingga memerlukan penanganan lebih khusus.

Selasa, 07 Juli 2009

Mengatasi anak berbohong



Anak usia 3-3,5 tahun, menurut Prof. Dr. Fawzia Aswin Hadis, biasanya mulai pandai berbohong. "Di usia itu, ia cenderung sudah lancar bicara. Ia juga sudah paham akan pembicaraan orang lain," ungkap pakar psikologi anak ini. Anak pun sebetulnya sudah bisa membedakan, mana yang benar dan salah. Buktinya, ia sudah mulai pandai berbohong.

Kebohongan yang dilakukan anak, kerap dilakukannya demi melindungi diri sendiri. Si kecil sudah bisa berpikir, "Daripada dimarain Bunda, lebih baik aku bohong." Jadilah, ketika si ibu menuduhnya mengambil kue, misalnya, dengan cepat dan lantang ia akan menjawab, "Enggak!" Apalagi, seperti dituturkan Fawzia, "Jawaban itu, kan, yang paling gampang?"

Bisa juga ia berbohong karena meniru. Entah dari orangtua atau lingkungannya. Mungkin ini pun pernah Anda alami sendiri, yaitu menyuruh anak mengatakan Anda tak ada di rumah ketika telepon berdering, sementara anak tahu persis Anda berada di rumah. Memang, itu termasuk kebohongan kecil (White lies). Tapi apa yang terjadi? "Lama-kelamaan, si kecil tahu dan bisa jadi ia menirunya."

DINIKMATI

Dua penyebab itulah, kata Fawzia, yang kerap menjadi pencetus utama timbulnya kebohongan pada anak. Yaitu melihat dan meniru. "Sebab, seorang anak belum bisa merancang kebohongan. Tidak ada istilah, anak kecil punya bakat bohong. Beda dengan orang dewasa yang sudah bisa merancang kebohongan. Kalau pada anak kecil, lebih banyak demi pertahanan diri." Kendati demikian, sangat tak bijaksana jika orangtua terburu-buru memvonis si kecil sebagai pembohong, setiap ia mengemukakan hal yang tidak benar.

"Tiap anak pasti pernah melakukan hal ini. Yang perlu kita perhatikan adalah frekuensinya. Kalau sedikit-sedikit berbohong, orangtua tentu perlu bertindak. Jangan sampai keterusan hingga ia besar. Nanti susah menghentikannya," papar Fawzia. Bukan itu saja. "Sosialisasinya bersama teman-temannya pun akan susah nantinya. Dia tak bakalan dipercaya teman-temannya."

"Hobi" berbohong, harus dihentikan. Sebab jika dibiarkan saja, "Anak akan menikmati kebohongannya itu. Ia akan berpendapat, ternyata solusi dari sebuah permasalahan, gampang saja. Cukup dengan mengatakan yang tidak benar, ia pun selamat." Bahkan bisa terjadi, jika kebohongan sudah begitu tinggi tingkatnya, anak akan mencuri. "Ini sama dengan berbohong. Dalam pandangan psikologis, berbohong dan mencuri sama mekanismenya, yaitu suatu perbuatan yang tidak baik, yang melanggar norma lingkungan."

Anak yang gemar berbohong umumnya berasal dari keluarga yang kurang memiliki disiplin. Juga jika anggota keluarga kerap melakukan kebohongan. Misalnya saja, si anak dijanjikan akan diberi permen jika ia mau tidur siang. "Tapi setelah bangun, ibunya tak memenuhi janji. Bahkan bilang, tak pernah berjanji seperti itu. Nah, peristiwa itu akan terekam dalam benak anak sehingga ia akhirnya berkesimpulan, berbohong atau tak memenuhi janji, tidak apa-apa."

Lingkungan, semisal teman, bisa pula memberi andil dalam membentuk kecenderungan anak berbohong. "Bilang aja kamu mau belajar bersama di rumahku, padahal nanti kita main play station" kata si teman. Anak Anda pun, karena khawatir tak mendapat izin keluar rumah, akhirnya menuruti anjuran temannya tadi untuk berbohong.

BERBOHONG VS IMAJINASI

Tentu saja, cara orangtua memandang suatu kebohongan yang dilakukan anaknya, berbeda satu sama lainnya. Terutama untuk kebohongan-kebohongan kecil. "Bergantung dari pemahaman akan arti kebohongan itu sendiri, di samping tergantung pada kebiasaan atau budaya setempat, serta insting atau pengalaman si orangtua," jelas Fawzia. Ia memberi contoh, ada orangtua yang menganggap, kebohongan kecil yang dilakukan anaknya, lumrah saja karena ia pun pernah melakukannya saat kecil dan tak berdampak buruk. "Jadi, si orangtua merasa tak perlu meributkannya."

Masing-masing orang pun, memiliki pemahaman akan arti yang baik dan tidak baik. Fawzia mencontohkan pemulung, yang mengambil barang yang digeletakkan di depan rumah kita. "Sebab ia berpendapat, toh, barang itu sudah dibuang dan tidak terpakai. Jadi, sah-sah saja dan tak berdosa jika diambil." Beda halnya dengan orang yang sangat strict dan berpedoman, barang itu, meski tergeletak, tetap saja bukan miliknya sehingga tak boleh diambil. Karena itulah, penanganan orangtua terhadap kebohongan anak, berbeda-beda pula. "Kalau menurut dia kebohongan itu masih bisa ditolerir, dia tidak akan melakukan tindakan apa-apa. Tapi ada keluarga yang baru menemukan suatu kebohongan kecil, sudah heboh dan cemas."

Di sisi lain, pesan Fawzia, orangtua juga harus pandai-pandai membedakan, apakah si anak benar berbohong atau hanya sekadar berimajinasi. "Kadang, kan, anak kecil suka berimajinasi. Meski belum pernah ke kebun binatang, ia bisa cerita, di kebun binatang ada dinosaurus atau naga." Nah, jika ini yang terjadi, "Jangan buru-buru menuduhnya berbohong. Mungkin sebenarnya si kecil ingin mengutarakan keinginannya berkunjung ke kebun binatang." Kalau memang memungkinkan, ajaklah ia ke sana sambil sebelumnya jelaskan padanya tentang fakta mengenai kebun binatang. "Misalnya, di sana tak ada naga dan dinosaurus, melainkan gajah, beruang, dan seterusnya. Dengan demikian, anak jadi tahu fakta yang sebenarnya."

PERLU TIDAKNYA HUKUMAN

Bagaimana jika anak memang berbohong dan ia sering melakukannya? Tindakan yang paling tepat adalah memberi tahu dan menasehatinya. "Jelaskan padanya, berbohong lebih buruk dibanding jika ia mengakui kesalahannya. Karena itu, jika anak mengakui kesalahannya, jangan dimarahi. Katakan saja padanya, kita tak setuju dengan perbuatannya dan ia tak boleh mengulanginya di lain waktu," kata Fawzia. Sebab, lanjutnya, "Jika ia sudah mengakui kesalahannya dan tetap dimarahi, justru akan mendorongnya untuk berbohong agar tak kena marah."

Tanamkan pula pada anak, betapa kejujuran lebih berharga daripada kebohongan. "Cuma saja orangtua tetap harus waspada agar si anak tak merasa bahwa ia boleh-boleh saja melakukan perbuatan tak baik asalkan jujur mengakuinya. Anak harus tetap diberi tahu, apa yang boleh dan tidak dilakukannya."

Saat ingin "membongkar" kebohongan anak, tak perlu dilakukan secara gegabah. Fawzia mencontohkan cucunya yang mengaku telah menghabiskan makanannya. "Tante dan omnya langsung teriak, dia bohong." Fawzia pun bertanya pada si cucu, seberapa banyak ia makan sambil menerangkan, anak kecil harus makan banyak agar cepat tumbuh besar. "Jadi, saya tak menuduhnya berbohong. Karena itu, cucu saya akhirnya mengaku, makanannya belum habis sehingga saya minta untuk menghabiskannya. Anak kecil mengerti, kok, kalau kita beri tahu seperti itu."

Justru kalau ia diteriaki "Bohong!" saat tengah berbohong, anak akan lantas menyangkalnya dengan berkata, "Aku nggak bohong, kok!" untuk memperkuat kebohongannya. "Itu adalah bentuk pertahanan dirinya." Jadi, lanjut Fawzia, walaupun kita tahu ia berbohong, jangan langsung menekan si kecil. "Di sisi lain, jelaskan pula padanya bahwa perbuatannya itu tidak betul." Mengoreksi kebohongan, bisa juga dilakukan oleh lingkungan si anak.

Misalnya, pada temannya ia mengaku memiliki boneka baru. "Mana buktinya?" kata si teman. Jadilah ia harus membuktikan kebenaran ucapannya. Kalau tak bisa, ia pasti dikatakan pembohong oleh temannya. "Dari situ anak akan belajar, jika ia tak bisa membuktikan ucapannya, ia telah berbohong dan berbohong itu tak ada manfaatnya."

Soal hukuman pada anak yang berbohong, menurut Fawzia, perlu dilakukan jika kebohongan yang dilakukan anak sudah membahayakan, memalukan, atau merugikan orang lain. "Tentunya tak perlu berlebihan. Beri saja hukuman yang bersifat mengurangi kesenangannya. Misalnya, ia harus berdiri di pojok ruangan untuk jangka waktu tertentu, uang sakunya dikurangi, atau tidak boleh menonton teve selama seminggu. Dengan pemberian hukuman, anak jadi mengerti, itulah konsekuensi yang harus diterimanya jika ia berbohong."

Sumber: tabloid-nakita.com

Jumat, 03 Juli 2009

Melatih Anak Gemar Sholat





Sholat adalah salah satu pilar aqidah dan akhlaq Islam yang sangat mendasar. Karena itu, ia harus senantiasa dihidupkan, dikokohkan, dan ditumbuhsuburkan dalam tiap-tiap keluarga Muslim. Nabi SAW bersabda, "Cahayailah rumah-rumah kalian dengan sholat dan tilawah Al Qur'an."

Nasehat di atas sudah barang tentu bukan sekadar anjuran belaka, tapi mengandung perintah kepada kita, bahwa para kepala keluarga Muslim berkewajiban menegakkan budaya sholat dan bacaan Al Qur'an di dalam tiap-tiap rumah-tangga mereka. Karena kekuatan rumah-tangga seseorang sangat ditentukan oleh kedua faktor itu. Selain, bahwa sholat dan tilawah Al Qur'an merupakan refleksi dari kekuatan aqidah seseorang.

Kita tentunya tidak bisa mengatakan seseorang aqidahnya baik hanya melihat dia melakukan sholat dan membaca Al Qur'an sekali waktu, alias tidak rutin. Dalam konteks keluarga, penegakan budaya sholat dan membaca Al Qur'an yang dimaksud, adalah kebiasaan yang melekat kuat dalam diri seluruh anggota keluarga. Hingga kedua ajaran itu menjadi sesuatu yang inherent dan hidup dalam sebuah keluarga.

Ini menjadi alasan kuat, kenapa Islam sejak awal memerintahkan kedua ajaran itu, khususnya sholat, wajib disosialisasikan pada anak-anak kita sedini mungkin. Dalam sebuah hadits disebutkan, "Rasulullah SAW biasa menangani sendiri dalam mengajari anak-anak mengenai hal-hal yang mereka perlukan dalam mengerjakan shalat." (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Nasa'i).

Mengajarkan anak-anak sholat memang tidak dengan cara indoktrinasi. Kita perlu menuntut mereka dengan penuh kesabaran dan ketekunan, yakni dengan cara pembiasaan. Karena menumbuhkan perilaku sholat pada anak-anak akan efektif lewat cara pembiasaan, maka seyogyanya para orangtua memberikan qudwah sebagai penegak sholat yang baik di mata anak-anak mereka. Walaupun dengan cara inipun tidak dijamin anak-anak akan rajin melakukan sholat. Sampai pada tahap usia tertentu, di mana anak tetap 'mbalelo malas mengerjakan sholat, tindakan lebih tegas diperbolehkan dalam Islam. Namun tetap dengan cara tidak menyakiti fisik anak.

"Perintahkanlah anak-anakmu mengerjakan sholat di kala mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka karena tidak mengerjakannya di kala mereka berusia 10 tahun. Dan pisahkan tempat tidurnya." (HR. Ahmad dan Abu Dawud dengan sanad hasan shahih atau shahih)

Anak-anak rajin sholat, penurut, serta giat belajar dan giat membantu orangtua, tentu menjadi dambaan para orangtua. Tapi masalahnya, bagaimana cara menumbuhkan sifat dan perilaku positif di atas pada anak-anak kita? Di bawah ini sedikit catatan, mudah-mudahan bisa menjadi pedoman praktis sederhana untuk melatih anak-anak agar rajin sholat.

Pertama, tunjukkan di mata anak-anak kita, bahwa kita sebagai orangtua yang baik di mata mereka, khususnya dalam menegakkan budaya sholat. Artinya, sedapat mungkin kita melaksanakan sholat pada awal waktu dan berjama'ah di masjid. Adalah kebiasaan positif, sesering mungkin anak kita bawa ke masjid untuk melakukan sholat berjama'ah, walaupun mungkin mereka mempersepsikan masjid sebagai tempat bermain.

Kedua, hormati waktu-waktu Islam dan nilai-nilainya dalam rumah kita. Misalnya, kita akan mematikan tivi atau tape-recorder pada saat adzan berkumandang, terutama saat adzan Maghrib dan 'Isya. Tidak mengumandangkan suara-suara lain di dalam rumah kita, selain bacaan Al Qur'an, nasyid Islami, atau lagu-lagu yang mengandung nilai-nilai pendidikan.

Ketiga, bentuk jama'ah sholat keluarga, bisa dipimpin oleh ibu, atau sekali-kali dipimpin ayah. Anak-anak kita tugaskan secara bergantian, yang bertugas menggelar tikar, petugas adzan/qomat, sebagai imam, dan petugas kultum (taushiyah), dilakukan secara bergiliran.

Keempat, biasakan anak-anak bangun pagi untuk melakukan sholat subuh. Kalau perlu rangsang mereka dengan hadiah. Yang paling pagi bangun, mereka kita beri hadiah menarik. Atau, mereka yang catatan sholatnya baik, akan diberikan penghargaan menarik. Dengan begitu, perlu dibuat sistem evaluasi sederhana yang bisa diaplikasi dengan mudah dan dilakukan secara kontinyu.

Kelima, jika perlu kita membuat perlombaan tentang pengetahuan sholat dengan hadiah-hadiah menarik, dengan melibatkan anak-anak para tetangga kita. Atau dibuat pengajian rutin keluarga khusus untuk anak-anak, utamanya memfokuskan pada bahasan tentang pentingnya pendidikan sholat bagi anak-anak sejak dini. Tempatnya bisa digilir, sesuai dengan kesepakatan. Wallahu a'lam.

(Oleh: Sulthoni)

Tips Atasi dan Cegah Kebiasaan Ngompol Anak



Beberap tips yang dapat diterapkan oleh para Ibu yang memiliki anak masih suka mengompol, ataupun bagi para calon ibu juga perlu mengetahui hal ini.

Tips ini juga sebagai salah satu cara untuk mendidik anak disiplin, terutama ketika hendak pipis (buang air kecil). Karena berhubungan dengan mendidik maka hendaknya dilakukan sejak kecil. Jika anak sudah dibiasakan untuk pipis pada tempatnya maka diharapkan jika sudah besar mereka akan terbiasa.

1. Biasakan anak pipis di kamar mandi sejak usia 5 bulan. Emang bisa? Kenapa tidak? Biasanya anak diajak ke kamar mandi dan buka celananya kemudian bantu anak untuk pipis dengan berkomunikasi. Hal ini dapat dilakukan pada jam2 tertentu. Biasanya setelah anak minum susu, sebelum dan sesudah tidur atau jam2 lain dimana anak2 terbiasa pipis. Bahkan jika anak bangun tidur dan mengompol ajaklah anak ke kamar mandi untuk pipis lagi atau hanya sekedar membersihkan bekas ompol pada badannya. Mungkin akan banyak mengalami kesulitan tapi percayalah bahwa anak sudah bisa diajak bicara. Anak akan merekam semuanya dan terbiasa dengan cara ini. Dan jika kita meninggalkan anak dengan pembantu atau babysitter sebaiknya diberitahu mengenai ini agar tips ini berhasil dengan baik. Ini pernah dilakukan kakakku pada anaknya ketika berusia 5 bulan. Dan berhasil dengan nilai plus..

2. Jangan biasakan anak memakai pampers apalagi di dalam rumah. Memang pampers mempermudah kita, tapi selain untuk kebersihan dan kesehatan gerak anak akan terganggu dan anak akan terbiasa pipis dimana pun dia berada (malas). Mungkin pampers lebih cocok digunakan ketika dalam perjalanan atau keluar rumah dalam waktu yang relative lama.

3. Jika anak sudah menginjak usia diatas 5 tahun dan masih mengompol biasakan anak pipis di kamar mandi sebelum tidur. Di usia ini orang tua harus bekerja keras. Walaupun telah pipis sebelum tidur kadang anak bisa juga ngompol. Untuk mengatasi ini maka 2 – 3 jam setelah anak tidur, coba anak dibangunkan untuk pipis lagi. Biasanya anak malas untuk bangun. Jika anak susah bangun, angkat anak ke kamar mandi (walo dalam keadaan mata terpejam) dan perintahkan untuk pipis. Insya allah kebiasaan ngompolnya akan hilang dalam beberapa bulan terapi.

4. Ingat bahwa kebiasaan mengompol membuat anak merasa minder dan malu. Biasanya anak yang punya kebiasaan ini sedikit terhambat perkembangan jiwanya. Jadi jangan mempermalukan dia di depan orang lain dengan mengatakan kebiasaannya tersebut.

Selamat Mencoba ya...

(Oleh : Nesa)

Bobo ya, Nak..



Apakah bayi anda sulit tidur di malam hari? Ya, ada beberapa alasan mengapa ia sulit tidur. Yang jelas, salah satunya mungkin karena cara pemberian makanan yang kurang tepat. Nah, berikut ini sejumlah “kesalahan” yang mungkin saja anda lakukan terhadap buah hati anda:

1. Menggabungkan ASI dan Susu Botol
Banyak ahli berpendapat, campuran susu botol dan ASI dapat menyebabkan masalah tidur. Jika anda menyusui, setiap kali selesai menyusui payudara memberi tanda kepada otak untuk memproduksi susu lebih banyak untuk sesi berikutnya. Tetapi, jika anda membuat alternatif ASI dengan diseling susu botol, ini akan mengganggu proses alami tubuh Anda dan produksi air susu akan berkurang, karena ASI yang dibutuhkan juga akan berkurang.
Alhasil, ketika tiba waktunya untuk memberi ASI lagi, si kecil tak lagi mendapatkan ASI yang banyak karena produksinya berkurang. Sehingga bayi tak akan merasa Kunyang. Akibatnya, bayi kan merasa lapar dan menjadi lebih sering terbangun di malam hari.

2. Membiarkan Menyusu Sampai Tertidur
Menyusui bayi sampai ia tertidur akan menimbulkan masalah pada pola tidurnya. Masalahnya, bayi akan segera menyadari, anda memberinya susu di jam tidur malamnya dan ia akan amat tergantung bahkan mengaharapkannya.
Jika cara ini terjadi beberapa kali, bayi akan terbiasa dengan rutinitas tersebut dan akan mengharapkannya di setiap sesi menyusui. Nah, untuk mengubah kebiasaan tersebut, lakukan salah satu hal di bawah ini:
Ubah waktu atau perpanjang waktu menyusui bayi pada jam tidurnya. Dengan melakukan hal ini, secara berharap akan menghilangkan hubungan jam tidur dengan waktu makannya.
Susui bayi lebih awal di malam hari dan bukan pada saat masuk jam tidurnya.
Dengan melakukan salah satu dari langkah di atas, bayi tak akan lagi menghubungkan waktu makannya dengan jam tidurnya. Cara ini membantu bayi belajar untuk tidur pada waktunya.

3. Dampak Makanan Ibu pada Pola Tidur Anak
Sebagai ibu yang masih menyusui, apapun yang anda Tinum atau makan akan berdampak pada ASI. Jika jumlah dan kalori makanan yang anda makan setiap hari tidak benar, akan sangat berpengaruh kepada produksi dan kualitas ASI.
Jadi, penting sekali untuk makan tiga kali zaherí dan mungkin beberapa makanan kecil diantaranya. Air susu membutuhkan kalori yang memadai agar bayi merasa cukup Kunyang dan puas. Jika tidak, bayi akan Teres minta susu sampai ia merasa Kunyang.
Andapun perlu mengonsumsi makanan yang lebih sehat, lebih teratur dan Tinum susu setiap hari. Cara ini membantu precedían ASI, sekaligus membantu pola tidur bayi. Ingat, semakin bayi merasa Kunyang, semakin baik pola tidurnya dan semakin tenang anda untuk beristirahat.

4. Makanan Padat Membantu Tidur?
Banyak orang percaya, makanan padat bisa membuat tidur bayi menjadi lebih baik. Di sisi lain, penelitian tak memperlihatkan perubahan apapun pada pola tidur bayi yang dilakukan pada bayi yang diberi ASI atau susu botol dengan bayi yang diberikan makanan padat.
Jadi, teori ini masih belum terbukti kebenarannya.selain itu, sebagian besar dokter tidak merekomendasikan menambahkan makanan padat lepada bayi sebelum berusia 6 bulan.
Ya, anda pasti tahu, banyak sekali orangtua merasa takut jika bayinya sulit tidur di malam hari. Tapi, tak perlu khawatir, jika tahu beberapa hal dasar mengenai cara membesarkan bayi, percayalah Anda tak akan mengalami masalah dalam menidurkan si kecil.

(NOVA 1112/XXII, 15-21 Juni 2009)

Buah Hati Kita Susah Makan..??



Sebenernya tidak ada anak yang susah makan, banyak orangtua..mengeluh tentang sulitnya makan anak..
Padahal anak akan selalu seneng apabila kita menjadi Orangtua yang Proaktif...

Dan kita berusaha acara makan...menjadi acara favorit buat anak...dan acara yang ditunggu-tunggu...kayanya bisa deh..
Seperti setiap waktunya makan..kita Orangtua siapkan materi untuk bercerita...nah ketika waktunya makan bersama..dimeja makan atau lesehan pun jadi..(kalau tidak ada meja makan)

Sambil makan kita bercerita... ketika kita lagi cerita, terus anak berhenti makan..kita berhenti dulu ceritanya...
beri motivasi "ayo..aaam dulu nanti terusin ceritanya..." anak bakalan semangat...penasaran dengan cerita tadi...beres deh makannya... iih beneran lho..dibuktiin bisa koq..

Tapi karna anakku yang besar udah sekolah..malah sekarang terbalik..dia jadi yang suka cerita sama Abi,Umi dan adiknya...yang awalnya kita terus cerita tentang nabi lah, binatanglah,...
yang kira-kira bisa menyerap sama anak..bisa dipahami ide-ide ceritanya...pastinya mendidik juga ya..

Sekarang Si kakak yang rajin cerita sama kita pada acara makan....kita udah siap mendengarkan...namanya anak nggak ada habisnya ceritanya...sambil semangat...
kadang sambil ngunyah pun ...wooow ceritanya lucu-lucu..kadang seputar temen...disekolah, dirumah, atau apa yang dibaca dibuku...
yang penting Kita Undang dulu cerita anak...lalu hargai ceritanya...kalau ada cerita yang sedikit aneh...Undang dulu lalu cegah....

Dan selain cara-cara yang diatas mungkin ada hal lain juga penting buat kita semua...
1. Kenali anak dan penyebab susah makan...Mungkin aza hanya sekedar protes karna ia tak menyukai makan yangn disajikan sama kita.
2. Sabar dan penyayang......jangan pernah mambentak buah hati kita jika ia sulit di bujuk untuk makan, anadaharus tetap sabar menghadapi si Kecil....bujuklah ia dengan kata-kata yg halus da lembut...sering memujilah, dan memberi hadiah yang mendidik..
3. Buat suasana yang menyenangkan.....Suasana ini bisa seperti yang saya uraikan diatas.. dengan cara duduk tenang dimeja makan
4. Perhatikan pola makan.....dilatih hingga keteraturan dan kebiasaan..
5. Kenali dan buat variasi warna dan bentuk makanan untuk anak.....makanan yang kita buat berwarna -warni..maksudnya bervariatif, tidak membosankan..bentuknya, rasanya..
6. Ajak buah hati kita untuk membuat menu makanan.......anak-anak akan merasa dilibatkan dan akan lebih tertanang dalam melahap makanan..
7. Berikan contoh yang baik........Anak akan memuji orangtuanya dalam pola minat makan,dan masakan yang kita masak, mulailah dengan mencontohkan padanya..
Siapkan jadi Orangtua yang Proaktif....gampang...Luruskan niat... bulatkan tekad..demi anak-anak kita...selain itu kita tetep Adab-adab dalam makan pun harus diutamakan....seperti berdoa dulu..tidak sambil berdiri, bersandar...dll.....

(Oleh: Meti Mediyastuti)

Disiplin Buat Anak




Banyak Orang tua yang pengen anak disiplin tapi kadang tidak sesuai dengan kondisi anak...hmmm...kita merasakan dulu ..ketika dahulu masa-masa kita Usia SD..setiap mau pergi sekolah...masuk jam 7.00 harus ngepel dulu, nyapu dulu, nyuci piring dulu...tapi kadang pada saat melakukan itu bete banget.... akhirnya kalo setiap hari abis sholat subuh...duuuh bebaaaan..malees...bukan seneng mau kesekolah tapi harus mengerjakan pekerjaan rumah dulu...

apa manfaat kita membiasakan anak nyuci piring tiap pagi atau ngepel tiap pagi? Apakah maksudnya.....agar anak belajar bertanggung jawab dan disiplin?...... Tujuan ini sangat baik.
Tetapi jangan sampai tujuan ini menimbulkan dampak negative lain pada anak.

Misalnya, apakah kegiatan di pagi hari yang bagi orang dewasa dianggap biasa
tapi bagi anak mungkin dampak menguras energinya dapat berdampak pada energy
yang dikeluarkan anak di sekolah?

Apakah tidak malah ketika sekolah ketika seharusnya mereka mengeluarkan energy yang cukup malah menjadi kelelahan? Kalo saya jadi anak, mungkin saya juga akan bête dan cemberut setiap pergi sekolah jika harus ngepel dulu. Dalam hati saya
mungkin akan setiap hari berkata “capeeeekk deeeeh”.

untuk anak usia SD pembiasaan mengerjakan rutinitas harian ini dapat dilakukan
bertahap, sedikit demi sedikit. Dari mulai sepekan sekali, tiap hari libur,
tiap hari senin dan kamis lalu setiap hari.......

Jika hanya mencuci piring saja barangkali rasional untuk dilakukan setiap hari, tapi jika harus ngepel juga,mungkin dapat dipikirkan kembali. ......Ada banyak cara lain untuk membiasakan anak bertanggung jawab dan disiplin setiap hari di rumah tanpa harus menimbulkan dampak negative lain di sekolah:
1. Membereskan kamar tempat tidur sebelum pergi,
2. Menyimpan sepatu pada tempatnya,
3. Menyimpan pakaian kotor pada tempatnya,
4. Menyiapkan agenda pelajaran untuk besok pada sore hari dan seterusnya.

(Oleh: Ihsan Baihaqi)

Bantu Si Kecil Bergaul Sehat



Sebagai orangtua, anda bisa mengarahkan si kecil agar tak terlibat ke dalam geng anak bermasalah dan membantunya mengembangkan pertemanan yang sehat dan aman baginya.

Bila anak tak punya geng:
• Bantu anak menemukan aktivitas di luar sekolah (yang jauh dari keberadaan geng), dimana ia bisa menemukan teman baru yang punya kesamaan hobi.
• Rancang pertemuan sosial yang bersifat akrab, baik di rumah anda, di rumah teman, atau di tempat lain yang netral.
• Undanglah seorang anak, bisa juga salah satu anggota geng, untuk menghabiskan waktu bersama si kecil di rumah. Acara menginap biasanya memberi pengalaman yang mengakrabkan.
• Jadikan rumah anda sebagai tempat yang menyenangkan dan terbuka bagi siapa saja. Sering-seringlah mengundang anak-anak lain dan biarkan putra-putri anda mengembangkan pertemanannya disetiap kesempatan yang ada.
• Besarkan hati anak, tak masalah bila tak jadi anggota geng tertentu, sepanjang ia punya teman-teman yang baik di sekolah.

Bila anak anggota geng:
• Ajarkan dia nilai-nilai empati dan masukan berharga lainnya. Galilah perasaanya bila seseorang menyakiti hatinya, atau ketika ia dikucilkan. Lalu minta si kecil menempatkan diri pada posisi anak yang perasaannya terluka karena dikucilkan tadi.
• Bantulah ia temukan teman lain di luar geng. Daftarkan dalam kursus atau aktivitas lain yang memungkinkan ia menyalurkan hobinya, sekaligus memberi kesempatan bertemu teman baru. Lalu atur pertemuan yang memungkinkan mereka bermain bersama di luar jam sekolah.
• Kepada gurunya, sampaikan ide soal pengelompokan kembali murid-murid di kelas. Guru bisa memisahkan murid dari gengnya, dengan mengelompokannya bersama teman lain yang bukan anggota geng.
• Jika anak dikeluarkan dari gengnya untuk sementara waktu atau bahkan selamanya, bantulah ia menyelesaikan masalah dengan caranya sendiri. Anda jangan ikut campur dengan melabrak si pemimpin geng, bahkan ibunya. Ingatkan si kecil, masih banyak anak baik lainnya yang ingin berteman dengannya.

(NOVA, 1109/XXII 25-31 Mei 2009)

Jangan Jadi Orangtua “Beracun”!!



Mari evaluasi gaya pengasuhan anda kepada si kecil, sekaligus menelusuri dari mana gaya itu terbentuk!

Menjadi racun berarti membahayakan, membuat hidup seseorang terkontaminasi atau terkena pengaruh buruk. Sebutan racun ini ditujukan kepada para orangtua berperilaku buruk, sehingga menimbulkan kerusakan parah terhadap kondisi emisonal sang anak.
Akibat lebih jauh, rasa percaya diri anak menjadi amat rendah. Citra dirinya pun menjadi begitu buruk akibat terkontaminasi tadi. Jadi, yang dimaksud disini adalah para orangtua yang melakukan berbagai tindak kekerasan kepada anaknya baik secara verbal, fisik maupun seksual.
Demikian pula halnya para orangtua yang tidak mencukupi, bahkan mengabaikan kebutuhan emosi anaknya. Tak jarang pola pengasuhan yang dipenuhi tindak kekerasan ini akan begitu kuat tertanam, sehingga tanpa disadari terbawa terus sampai anak berusia dewasa.
Yang memprihatinkan lagi, ada begitu banyak orangtua dengan pola pengasuhan penuh racun ini secara konsisten meinggalkan warisan berupa rasa bersalah dan rasa malu pada diri anak-anaknya. Ironisnya, tak sedikit pula orangtua yang menganggap kekejaman adalah perbuatan yang sah dilakukan, terutama saat anak berbuat salah.
Lalu, darimana para orangtua “beracun” ini mempelajari perilaku tercelanya? Ya, anda benar! Mereka belajar dari orangtuanya sendiri, yang pada giliran sebelumnya juga belajar dari orangtua mereka pula.
Memang sih ada segelintir orang yang menghubungkan masalah emosional dalam dirinya dengan pola pengasuhan yang diterima dari orangtuanya dulu. Namun yang lebih sering terjadi masalah-masalah emosional ini baru akan muncul begitu mereka memainkan peran sebagai orangtua.
Semua Pernah Berbuat Salah
Sesungguhnya para orangtua juga menyadari, membangun sebuah keluarga merupakan moment yang paling membuatnya stress. Seringkali bagian tersulit dari peran sebagai orangtua adalah mengakui perilakunya yang patut dipertanyakan tadi merupakan pengaruh buruk dari orangtuanya semasa lalu.
Lantas, mengapa sulit? Tak lain karena dulu mereka dikondisikan begitu tertekannya, sehingga tak pernah berani melontarkan kritik atau menilai kesalahan yang ada dalam diri orangtuanya. Kadang kala tak hanya apa yang mereka lakukan yang menjadi ancaman bagi perkembangan anak. Bahkan apa yang tak mereka lakukan pun bisa membahayakan kehidupan anak.
Kondisi ini tentu akan sangat mengganggu. Anak baru bisa mengakui, orangtua dulu telah menyakiti jiwanya bila menggunakan ”kaki lilin” alias berdiri pada posisi yang lebih tinggi dari posisi anak selama ini.
Tindak kekerasan secara verbal dari orangtua terhadap anaknya juga digolongkan dalam pengasuhan beracun yang amat sangat membahayakan. Meski tindak kekerasan ini acapkali dinilai tak memiliki bukti signifikan.
Tak mengherankan bila tindak kekerasan secara verbal kerap dianggap lumrah sebagai perilaku keluarga. Padahal berkas goresannya begitu menoreh tajam pada kondisi kejiwaan anak. Tak terlihat, namun amat berpotensi menghancurkan jiwanya.
Suka Menyalahkan Diri
Kabar buruknya, anak-anak yang dibesarkan oleh orangtua dengan pola pengasuhan beracun justru terbiasa menyalahkan dirinya sendiri atas kekejaman yang dilakukan orangtuanya. Mereka cenderung tumbuh menjadi sosok orang dewasa yang dibebani citra diri amat rendah dan gambaran diri serba buruk. Sedangkan kabar baiknya, masa lampau memang tak bisa diubah atau diperbaiki lagi. Namun, tak demikian halnya dengan masa depan.
Tak sedikit orangtua hebat yang berani memutuskan mata rantai atas hal ekstrim yang dialaminya semasa kecil. Meski mengalami hal yang tak sepatutnya diterima, para orangtua luar biasa ini mampu tampil sebagai model peran yang mengagumkan bagi anak-anaknya.
Ada seorang ibu muda yang keberhasilannya dalam hal ini sungguh patut diacungi jempol. Menurutnya setiap keputusan yang dibuat mengenai pengasuhan anak justru menuntutnya mengambil posisi berlawanan dengan posisi ketika ia dulu dibesarkan. Tentu saja bukan hal yang mudah, sehingga ketangguhan memang sangat dituntut. Dengan berjalannya waktu, perubahan persepsinya membuahkan hasil manis. Gaya pengasuhannya berkembang alias tidak diam di tempat seperti yang dilakukan orangtuanya dulu. Anak-anaknya tumbuh menjadi individu yang mengagumkan. Poin terbesarnya adalah keberanian untuk mengakui ada yang salah dalam pola pengasuhan yang amat menyakitkan di masa kecil. Sekaligus keberanian untuk memutuskan tak akan mengulangi kesalahan yang sama, yakni menerapkan pola pengasuhan orangtuanya dulu.

(NOVA 1110/XXII 1-7 Juni 2009)

Selasa, 30 Juni 2009

Mendidik dengan Cerita..


Semua anak adalah anugrah...tapi kenapa ya anak jadi beban juga...ternyata itu semua kembali pada kita sebagai orangtua...yang menjadikan beban itu adalah kita, orangtua......hmmm sedih banget ya...anak jadi korban..

Ya banyak hal dalam mendidik..tapi anak tetep menyenangkan....ternyata Mendidik dengan Cerita lebih kena buat anak...ya ini pengalaman saya sama anak.....kita bisa berbagai maca cara dalam bercerita..ntah kita cerita tentang sholat,menngerjakan PR...dan kita bisa mengambil seorang tokoh kartunyang disukai anak.....

Contoh ni ya.....ketika anak saya Azka (7 th) mau mengerjakan PR...tapi masih pengen maen....cuman namanya anak...banyak tunggunya....apa dululah...ini dululah....macem2..

Akhirnya saya pake jurus jitu, dengan cerita...karena Azka lagi mainin ultraman....saya ambil dan pinjem mainan itu..saya bersandiwara dengan beda suara misalnya " assalamua'laikum merah...", waa'laikum salam biru...."(karena mainan tersebut warnanya merah dan biru jadi saya pake nama tokoh ).....

Setelah itu....saya mainkan, " Biru..kita maiiin yuuk.."
"main apa..kan udah malem"
"ya aku pengen main sama kamu.."
"tapi aku belum menegrjakan PR...."
"Nanti aja PRnya mendingan main dulu...."
" nggak boleh dinanti-nanti...nanti kalo aku ngerjain PRnya main dulu keburu ngantuk deh...."
"ya nggaklah.."
"nggak mau ah....nanti besok temen-temen ngumpulin PR, aku nggak dong...iiih nggak ah..akku mau ngerjain PR dulu...biar tenang..mainnya bisa nanti kan masih banyak waktu...."

dan banyak lagi.....itu juga saya kalo waktuya sholat pake cerita juga, didalamnya bisa diceritain betapa pentingnya sholat, kalo nggak sholat nanti seperti apa.... aaah seru deh...
akhirnya anak saya kalo udah beres...langsung " Mii..tunggu ya Kaka mau ngerjain Pr dulu." atau " Miii...Kaka mau sholat isya dulu ya...." dan adiknya ikut sholat juga...

Tips tadi ada manfaatnya buat kita :
1. kita tidak harus marah-marah .
2. Anak merasa nyaman melakukannya, tanpa ada paksaan.
3. banyak ilmu buat anak dari cerita-cerita tersebut....

Subhanallah...anak lebih merekam apa yang kita ceritakan....ya walaupun seterusnya anak2 minta diceritain lagi.lagi dan lagi...

(Oleh: Meti Mediyastuti)

Saat Tepat Menasihati Anak


Banyak peristiwa tak terduga dialami orang tua waktu menasihati anak sedang marah, sering anak merespon secara negatip, spontan dan tidak terkendali, sebab ketika marah, kondisi kesadaran anak berada pada FRekuesi gelombang Beta.

Seorang yang frekuensi gelombang otaknya di zona beta, berada dalam kondisi kesadaran normal tapi cenderung mengalami stres, kondisi inipun terjadi pada seseorang sedang capek.

Menurut Psikolog dan Parenting Consultanta dari dinamic Brain, Novian TRiwidia jaya bahwa nasihat apapun akan sulit di terima anak-anak dakam kondisi tersebut, sebaiknya nasihat disampaikan orangtua ketika anak-anak sedang bersenang-senang, makan atau sakit. Saat itu gelombang otak anak berada di Zona alpha atau theta"

Mengetahui waktu yang tepat ketika menasihati anak-anak merupakan satu kunci keberhasilan menerapkan pola asuh, pemahaman ini bisa memberikan hasil optimal ketika dikombinasi pemahaman orang tua terhadap tipe kepribadian anak.

Menurut beliau juga jangan luapa untuk terus menanamkan nilai-nila positif ke ke dalam diri anak. Pujilah setiap sikap positif yang dutujukkan anak-anak, pujian akan memperkuat nila-nilai positif dalam diri anak-anak dan terbawa sampai mereka remaja dan dewasa. Ini yang dilakukan oleh Ibunda Thomas Alfa Edison buat menumbuhkan rasa percaya diri penemu lampu pijar....

Ngeri juga ya kalo kita salah dalam melangkah mendidik anak...gampang susah memang....perlu kesabaran buat orang tua... ya tantangan buat kita sebagai orang tua... kebetulan artikel ini saya dapat dari koran Tribun jabar..

(Oleh: Meti Mediyastuti)

12 ”Jangan” saat Menyuapi Si Kecil


Ada kalanya si kecil rewel ketika disuapi, bahkan tak mau makan sama sekali. Sebenarnya ada sejumlah rumus yang perlu anda ketahui agar si kecil lahap menyantap makanan bergizinya.
1.
Jangan pernah memberikan kacang-kacangan, kismis, popcorn, sayuran mentah, buah-buahan yang tak dikupas atau selai kacang pada anak-anak dibawah usia 2 tahun.
2.
Jangan memberikan madu kepada bayi, karena madu berpotensi menyebabkan gangguan perut pada bayi.
3.
Jangan memberikan buah bit, bayam, atau segala jenis umbi-umbian berwarna hijau sebagai makanan utama kepada anak usia 1 – 2 tahun. Konsentrasi kandungan nitratnya yang tinggi bisa menurunkan kadar hemoglobin si kecil.
4.
Jangan menambahkan garam, gula atau bumbu-bumbu berasa tajam/menyengat ke dalam makanan bayi buatan sendiri. Bila anda menghendaki anak belajar makan makanan yang sama dengan makanan keluarga, sisihkan sebagian dulu untuk si Batita dan barulah anda memasukkan bumbu ke dalam masakan tadi untuk keluarga.
5.
Saat bayi rewel, jangan gunakan kue-kue sebagai ”empeng” untuk menenangkannya.
6.
Jangan gunakan sayuran dalam kaleng kepada bayi, karena makanan jenis ini biasanya penuh dengan kandungan sodium dan zat-zat adiktif. Bacalah lebih dulu label pada kemasannya. Sayuran beku umumnya mengandung sedikit atau bahkan sama sekali tidak memiliki kandungan sodium.
7.
Jangan menggunakan microwave untuk memanaskan makanan bayi. Bahkan pada makanan yang dimasak sebentar pun tak menutup kemungkinan adanya bahaya saat dipanaskan kembali. Bila terpaksa harus melakukannya, manfaatkan defrost cycle dan pastikan Anda sering memeriksa dan mengaduknya. Jangan lupa untuk selalu mengecek suhunya dengan menyentuhkan sendok makanan ke bagian luar bibir atas anda. Pastikan sendok dan peranti masak yang anda gunakan benar-benar dicuci bersih sebelum digunakan untuk menyuapi si kecil.
8.
Saat memberi si kecil makan malam, jangan pernah menempatkan makanan cair dalam botol dengan dot berlubang besar. Selain amat berbahaya (amat mungkin membuat si kecil tersedak), juga tak membangun kebiasaan makan yang baik serta berdampak buruk pada kesehatan giginya.
9.
Jangan memberi buah-buahan yang kelewat asam, seperti jeruk, nanas kepada anak dibawah usia 1 tahun. Asam yang terlalu tajam bisa merusak sistem pencernaan bayi yang memang belum berkembang secara sempurna.
10.
Mengingat putih telur yang berpotensi menyulut reaksi alergi, sebaiknya jangan berikan kepada bayi dibawah usia 1 tahun. Kuning telur yang sudah dimasak jauh lebih baik bagi kesehatan bayi.
11.
Jangan pernah memaksa anak untuk makan. Untuk memulai pemberian makanan padat, mulailah dengan 1 – 2 sendok makan. Si kecil akan menuntun anda kok untuk mengenali seperti apa pola makanannya dan makanan apa saja yang disukainya.
12.
Selama 2 tahun pertama, jangan membatasi asupan lemak dalam makanan buat si kecil. Lemak amat dibutuhkan dalam proses tumbuh kembangnya. Jadi tak perlu khawatir mereka akan jadi kegemukan.

(NOVA 1113/XXII, 22-28 Juni 2009)