Tampilkan postingan dengan label Mengenal Autisme. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mengenal Autisme. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 Juli 2009

Mengenali Autis Sejak Dini



Tak perlu menunggu hingga besar untuk mengetahui si kecil mengalami autis atau tidak. Sejak bayi pun bisa dideteksi. Sering terjadi, setelah si kecil beranjak besar baru diketahui ia mengalami gangguan perkembangan, entah lambat bicara, retardasi mental, hiperaktif, autis, dan lainnya. Itu pun bila si orang tua mencurigai anaknya bermasalah dan segera membawanya ke dokter. Kalau tidak, tentulah makin terlambat saja diketahuinya. Tak mudah untuk mengetahui apakah anak kita mengalami gangguan perkembangan atau tidak, terlebih untuk membedakan autis dengan gangguan penyimpangan lain. Misal, membedakan autis dengan retardasi mental. Pada anak retardasi mental, seluruh aspek perkembangannya lambat, baik kecerdasan, sosial, maupun motorik halusnya. Jika diukur IQ-nya pun dibawah 70, hingga sulit membedakannya dengan anak autis, karena respon pada anak autis juga lambat. Makanya, anak autis cenderung bersikap cuek.

Tanda-tanda anak hiperaktif pun hampir mirip dengan anak autis, yang biasanya terjadi di usia berjalan. Misal, anak tak bisa diam, tak bisa menatap lawan bicaranya, dan tak bisa konsentrasi. Perhatiannya juga mudah beralih, bila diajak ngomong seolah-olah tak mendengarkan. "Nah, tanda-tanda ini juga dijumpai pada anak autis. Biasanya, 50 persen anak autis juga tak bisa diam dan konsentrasinya buruk." Terlebih jika hiperaktifnya disertai lambat bicara, makin susahlah membedakannya, apakah autis atau lambat bicara.

Manifestasi gejala yang mirip ini, bisa ada di pelbagai gangguan. Hingga, biasanya tak dijadikan gejala khas pathognomonis atau karakteristik utama dari suatu gangguan. Misal, gejala panas. Bukankah bisa pertanda sakit gigi, radang tenggorok, radang telinga, tifus, malaria, atau demam berdarah? Hingga, kita tak bisa bilang, "Oh, si kecil panas, pasti demam berdarah.", misal. Sebab, untuk memastikan demam berdarah harus ada pathognomonis-nya. Misal, bila diperiksa darahnya, trombositnya turun atau bila lengan atas dipencet, di bagian bawahnya dijumpai bintik-bintik merah, berarti ada perdarahan karena pembuluh darahnya rapuh. "Jadi, tak semua gejala panas itu menandakan demam berdarah. Demikian pula dengan gangguan perkembangan, perlu ditandai apa yang menjadi pathognomonis-nya."

AUTIS INFANTIL

Nah, autis pada bayi, sebenarnya bisa diketahui sejak usia beberapa minggu setelah kelahirannya, dikenal dengan istilah autis infantil. Autis ini menempati spektrum paling berat, hingga disebut juga dengan nama penyakit Kanner. Ada juga yang menempati spektrum ringan, namanya ASD atau Autistic Spectrum Disorder.

Ibarat gambar yang diberi warna, autis infantil atau Kanner itu hitam pekat, sementara yang ASD abu-abu karena sebetulnya mendekati normal. "Biasanya ASD lebih sulit dibedakan dengan gangguan lain yang bukan autis, seperti anak lambat bicara atau hiperaktif." ASD biasa juga disebut autisma atypical (tidak khas), asperger atau semantic-pragmatic disorder karena ASD akan tampak di usia sekitar 2 tahun atau saat ia mulai bicara. "Di sini anak sebenarnya bisa bicara tapi tak bisa berkomunikasi atau tak bisa menyusun kata. Hubungan dengan orang pun tak hangat atau tak normal.

Bila autisnya infantil atau terjadi sejak bayi, tentunya tak lagi dalam taraf ringan. Pada bayi, autis bisa dideteksi dari perkembangan sosial dan emosionalnya. "Bayi yang mengalami penyakit autisma, sosial emosinya tak berkembang dan tak berjalan semestinya. Dengan kata lain, mengalami distorsi atau penyimpangan perkembangan yang sangat menyeluruh." Hal ini bisa dilihat, misal, ketika si ibu menyusui ASI. Bila pada bayi normal, kala disusui akan langsung menempelkan tubuhnya ke dada si ibu dan sambil disusui menatap sang ibu sebagai tanda adanya attach atau kelekatan emosional dengan ibunya. "Jadi, ada insting melekat pada ibu. Lagi pula otak anak merekam bagaimana kedekatan dia dengan ibunya sejak dalam rahim."

Nah, pada bayi yang autis, saat disusui oleh ibu, tubuhnya akan kaku. Meski ia mengisap, karena memang ada insting lapar pada bayi, tapi secara emosi tak ada kelekatan dengan ibu. "Yang bisa merasakan seperti ini adalah ibunya sendiri. Hingga seringkali si ibu akan merasa seperti memeluk benda, entah guling, sebatang kayu atau bungkusan. Jadi, tak ada hubungan sosial emosinya." Begitupun bila bayi ditelentangkan, misal. Normalnya, usia beberapa minggu bayi akan spontan tersenyum meski tak kita apa-apakan.

Setelah usia 2-3 bulan mungkin akan berespon tertawa, misal, bila diajak bercanda. Jadi, ada kontak mata. Jika menangis pun jelas, entah karena lapar atau buang air. Makin usia bertambah, pada bayi normal juga akan aktif bereksplorasi atau punya keingintahuan besar pada objek-objek di sekelilingnya. "Sedangkan bayi autis, tak demikian. Ia tak berespon apa pun, entah kala diajak bercanda atau bercakap-cakap." Bila menangis, tangisannya juga tak jelas disebabkan apa. Jikapun ada kontak mata, matanya mungkin terlihat kosong tak bermakna. Kala tiba masa ekplorasi, ia juga tak tertarik dengan yang ada di sekelilingnya. Kalau, toh, tertarik, hanya pada satu objek saja ia bisa lekat dan terus-menerus.

Jadi, adanya penyimpangan dari perkembangan psikososial seperti itu bisa dilihat jelas pada bayi autis." Tentunya gejala-gejala autis bukan cuma itu. Makin usianya bertambah, ia tak bisa berinteraksi. "Dari segi kuantitas dan kualitas, interaksinya menurun dengan orang sekitarnya, juga tak ada perhatiannya terhadap lingkungan."

PENDETEKSIAN

Untuk mendeteksi autis pada bayi, menurut Dwidjo, bisa dilakukan dengan prosedur pemeriksaan rutin yang dilakukan tiap dokter atau bidan yang menanganinya. "Jadi, selain pemeriksaan TB dan BB, juga harus pemeriksaan perkembangan psikososial dan psikomotoriknya. Seperti, bagaimana kala kepala diangkat, tengkurap, jalan, dan sebagainya. Meski pada bayi autis psikomotorik ini sebenarnya tak terlalu penting, kecuali pada perkembangan mental yang seluruhnya terlambat." Jadi, dengan prosedur pemeriksaan yang berjalan baik, sebetulnya masalah autis pada bayi bisa terdeteksi sejak awal. "Sayangnya, para dokter sering tak punya waktu banyak untuk melakukannya." Itu sebab, diharapkan ibu sendirilah yang bisa mencatat bagaimana tonggak-tonggak perkembangan sosial-emosi bayinya.

Misal, usia tersenyum, melihat, atau berespon sesuai tahapan usianya. "Jika ciri-ciri yang harusnya ada tapi selama 3 bulan berturut-turut tak juga muncul, perlu dicurigai." Selanjutnya, ada baiknya lakukan diagnosa autis pada dokter yang berkompeten untuk itu, entah dokter anak, psikolog atau psikiater anak. Dengan demikian, penanganannya tak salah dan bisa menyeluruh.

PENANGANAN

Bila sejak awal autis pada bayi terdeteksi, penanganan yang dilakukan bisa memadai. "Karena prinsipnya, bayi mengalami hambatan perkembangan. Yang menghambatnya adalah penyakit autis. Maka, prinsip penanganannya, anak harus dirangsang terus-menerus dan didorong agar mencapai perkembangan optimal. Seperti diketahui, ada empat dimensi perkembangan pada bayi, yaitu motorik halus, motorik kasar, bahasa dan komunikasi, serta sosialisasi. "Jadi, sejak bayi 4 hal inilah yang perlu dilatih satu per satu agar ia mampu mencapai tonggak-tonggak perkembangannya. Setiap dimensi dirangsang dengan teknik dan metode yang sesuai kebutuhannya."

Karena anak autis tak punya interaksi sosial dan emosional yang memadai, metode yang dilakukan adalah pendekatan perilaku atau stimulasi yang disebut dengan ABA (Applied Behaviour Analysis). "Biasanya ini dilakukan untuk anak usia 1 tahun ke atas. Sistemnya dengan latihan dan pemberian pujian atau reinforcement bila ia berhasil."

Sedangkan bayi, lebih banyak diberikan rangsangan untuk sosial dan emosionalnya. Misal, bayi sering diajak berinteraksi, ditatap, didekap, dipeluk, dicium, tersenyum, dan sebagainya. "Jadi, lebih pada rangsangan sensori-motoriknya. Karena rangsang-rangsang yang sampai pada otak bayi itu 90 persen ditentukan rangsang sensori-motoriknya." Intinya, orang tua harus terus-menerus memberikan rangsang yang sifatnya mengembangkan respon sosial dan emosinya. Jangan malah meninggalkan si bayi sendirian, ya, Bu. Kalau digendong juga sebaiknya digendong depan dengan selendang, hingga ada rangsangnya bagi bayi.

Namun demikian, yang namanya gangguan perkembangan, selalu penyebabnya tak tunggal, tapi kompleks dan banyak faktor. "Tak seperti sakit malaria, kalau penyebabnya diobati akan segera sembuh. Pada gangguan seperti autis sulit dikatakan sembuh dalam arti hilang sama sekali penyakitnya, karena penyebab autis itu sendiri tak diketahui pasti." Hanya saja, tambahnya, bila sudah distimulasi dini, tahap perkembangannya akan lebih baik. Kecacatan atau hambatan dan kekurangan dalam perkembangannya setidaknya bisa diminimalkan. Hingga, ketika masanya di usia anak, taruhlah usia prasekolah, orang tua tak perlu sampai mengeluarkan biaya, tenaga, dan waktu lebih banyak untuk memberikan terapi pada anaknya. Nah, tunggu apa lagi? Segera lakukan pemeriksaan pada si kecil bila kita mencurigainya hingga bisa terdeteksi lebih dini jika ada gejala autis.

Mengenal Autisme



Secara garis besar, Autisme, adalah gangguan perkembangan khususnya terjadi pada masa anak-anak, yang membuat seseorang tidak mampu mengadakan interaksi sosial dan seolah-olah hidup dalam dunianya sendiri. Pada anak-anak biasa disebut dengan Autisme Infantil. Selain Autisme juga dikenal istilah Schizophrenia yang juga merupakan gangguan yang membuat seseorang menarik diri dari dunia luar dan menciptakan dunia fantasinya sendiri seperti: berbicara, tertawa, menangis, dan marah-marah sendiri.

Tetapi ada perbedaan yang jelas antara penyebab dari Autisme pada penderita Schizophrenia dan penyandang autisme infantil. Schizophrenia disebabkan oleh proses regresi karena penyakit jiwa, sedangkan pada anak-anak penyandang autisme infantil terdapat kegagalan perkembangan. Gejala autisme infantil timbul sebelum anak mencapai usia 3 tahun. Pada sebagian anak, gejala-gejala itu sudah ada sejak lahir. Seorang Ibu yang sangat cermat memantau perkembangan anaknya bisa melihat beberapa keganjilan sebelum anaknya mencapai usia 1 tahun. Yang sangat menonjol adalah tidak adanya atau sangat kurangnya tatap mata.

Untuk memeriksa apakah seorang anak menderita autis atau tidak, digunakan standar internasional tentang autisme. ICD-10 (International Classification of Diseases) 1993 dan DSM-IV (Diagnostic and Statistical Manual) 1994 merumuskan kriteria diagnosis untuk Autisme Infantil yang isinya sama, yang saat ini dipakai di seluruh dunia. Kriteria tersebut adalah : Harus ada sedikitnya 6 gejala dari (1), (2), dan (3) seperti di bawah ini, dengan minimal 2 gejala dari (1) dan masing-masing 1 gejala dari (2) dan (3).

1. Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial yang timbal balik.
Minimal harus ada 2 dari gejala di bawah ini :
* Tak mampu menjalin interaksi sosial yang cukup memadai : kontak mata sangat kurang, ekspresi muka kurang hidup, gerak gerik kurang tertuju
* Tidak bisa bermain dengan teman sebaya
* Tak ada empati (tak dapat merasakan apa yang dirasakan orang lain)
* Kurang mampu mengadakan hubungan sosial dan emosional yang timbal balik
2. Gangguan kualitatif dalam bidang komunikasi.
Minimal harus ada 1 dari gejala di bawah ini :
* Perkembangan bicara terlambat atau sama sekali tak berkembang. Anak tidak berusaha untuk berkomunikasi secara non-verbal
* Bila anak bisa bicara, maka bicaranya tidak dipakai untuk berkomunikasi
* Sering menggunakan bahasa yang aneh dan diulang-ulang
* Cara bermain kurang variatif, kurang imajinatif, dan kurang dapat meniru
3. Adanya suatu pola yang dipertahankan dan diulang-ulang dalam perilaku, minat, dan kegiatan.

Minimal harus ada 1 dari gejala di bawah ini :
* Mempertahankan satu minat atau lebih dengan cara yang sangat khas dan berlebihan
* Terpaku pada suatu kegiatan yang ritualistik atau rutinitas yang tidak ada gunanya
* Ada gerakan-gerakan aneh yang khas dan diulang-ulang
* Seringkali sangat terpukau pada bagian-bagian benda

Sebelum umur 3 tahun tampak adanya keterlambatan atau gangguan dalam bidang (1) interaksi sosial, (2) bicara dan berbahasa, dan (3) cara bermain yang monoton, kurang variatif. Bukan disebabkan oleh Sindroma Rett atau Gangguan Disintegratif Masa Kanak. Namun kemungkinan kesalahan diagnosis selalu ada, terutama pada autisme ringan. Hal ini biasanya disebabkan karena adanya gangguan atau penyakit lain yang menyertai gangguan autis yang ada, seperti retardasi mental yang berat atau hiperaktivitas. Autisme memiliki kemungkinan untuk dapat disembuhkan, tergantung dari berat tidaknya gangguan yang ada. Berdasarkan kabar terakhir, di Indonesia ada 2 penyandang autis yang berhasil disembuhkan, dan kini dapat hidup dengan normal dan berprestasi. Di Amerika, di mana penyandang autisme ditangani secara lebih serius, persentase kesembuhan lebih besar.