Kamis, 02 Juli 2009

TOPI SAYA BUNDAR



Written by : NN

topi saya bundar
bundar topi saya
kalau tidak bundar
bukan topi saya

Selasa, 30 Juni 2009

Mendidik dengan Cerita..


Semua anak adalah anugrah...tapi kenapa ya anak jadi beban juga...ternyata itu semua kembali pada kita sebagai orangtua...yang menjadikan beban itu adalah kita, orangtua......hmmm sedih banget ya...anak jadi korban..

Ya banyak hal dalam mendidik..tapi anak tetep menyenangkan....ternyata Mendidik dengan Cerita lebih kena buat anak...ya ini pengalaman saya sama anak.....kita bisa berbagai maca cara dalam bercerita..ntah kita cerita tentang sholat,menngerjakan PR...dan kita bisa mengambil seorang tokoh kartunyang disukai anak.....

Contoh ni ya.....ketika anak saya Azka (7 th) mau mengerjakan PR...tapi masih pengen maen....cuman namanya anak...banyak tunggunya....apa dululah...ini dululah....macem2..

Akhirnya saya pake jurus jitu, dengan cerita...karena Azka lagi mainin ultraman....saya ambil dan pinjem mainan itu..saya bersandiwara dengan beda suara misalnya " assalamua'laikum merah...", waa'laikum salam biru...."(karena mainan tersebut warnanya merah dan biru jadi saya pake nama tokoh ).....

Setelah itu....saya mainkan, " Biru..kita maiiin yuuk.."
"main apa..kan udah malem"
"ya aku pengen main sama kamu.."
"tapi aku belum menegrjakan PR...."
"Nanti aja PRnya mendingan main dulu...."
" nggak boleh dinanti-nanti...nanti kalo aku ngerjain PRnya main dulu keburu ngantuk deh...."
"ya nggaklah.."
"nggak mau ah....nanti besok temen-temen ngumpulin PR, aku nggak dong...iiih nggak ah..akku mau ngerjain PR dulu...biar tenang..mainnya bisa nanti kan masih banyak waktu...."

dan banyak lagi.....itu juga saya kalo waktuya sholat pake cerita juga, didalamnya bisa diceritain betapa pentingnya sholat, kalo nggak sholat nanti seperti apa.... aaah seru deh...
akhirnya anak saya kalo udah beres...langsung " Mii..tunggu ya Kaka mau ngerjain Pr dulu." atau " Miii...Kaka mau sholat isya dulu ya...." dan adiknya ikut sholat juga...

Tips tadi ada manfaatnya buat kita :
1. kita tidak harus marah-marah .
2. Anak merasa nyaman melakukannya, tanpa ada paksaan.
3. banyak ilmu buat anak dari cerita-cerita tersebut....

Subhanallah...anak lebih merekam apa yang kita ceritakan....ya walaupun seterusnya anak2 minta diceritain lagi.lagi dan lagi...

(Oleh: Meti Mediyastuti)

Saat Tepat Menasihati Anak


Banyak peristiwa tak terduga dialami orang tua waktu menasihati anak sedang marah, sering anak merespon secara negatip, spontan dan tidak terkendali, sebab ketika marah, kondisi kesadaran anak berada pada FRekuesi gelombang Beta.

Seorang yang frekuensi gelombang otaknya di zona beta, berada dalam kondisi kesadaran normal tapi cenderung mengalami stres, kondisi inipun terjadi pada seseorang sedang capek.

Menurut Psikolog dan Parenting Consultanta dari dinamic Brain, Novian TRiwidia jaya bahwa nasihat apapun akan sulit di terima anak-anak dakam kondisi tersebut, sebaiknya nasihat disampaikan orangtua ketika anak-anak sedang bersenang-senang, makan atau sakit. Saat itu gelombang otak anak berada di Zona alpha atau theta"

Mengetahui waktu yang tepat ketika menasihati anak-anak merupakan satu kunci keberhasilan menerapkan pola asuh, pemahaman ini bisa memberikan hasil optimal ketika dikombinasi pemahaman orang tua terhadap tipe kepribadian anak.

Menurut beliau juga jangan luapa untuk terus menanamkan nilai-nila positif ke ke dalam diri anak. Pujilah setiap sikap positif yang dutujukkan anak-anak, pujian akan memperkuat nila-nilai positif dalam diri anak-anak dan terbawa sampai mereka remaja dan dewasa. Ini yang dilakukan oleh Ibunda Thomas Alfa Edison buat menumbuhkan rasa percaya diri penemu lampu pijar....

Ngeri juga ya kalo kita salah dalam melangkah mendidik anak...gampang susah memang....perlu kesabaran buat orang tua... ya tantangan buat kita sebagai orang tua... kebetulan artikel ini saya dapat dari koran Tribun jabar..

(Oleh: Meti Mediyastuti)

12 ”Jangan” saat Menyuapi Si Kecil


Ada kalanya si kecil rewel ketika disuapi, bahkan tak mau makan sama sekali. Sebenarnya ada sejumlah rumus yang perlu anda ketahui agar si kecil lahap menyantap makanan bergizinya.
1.
Jangan pernah memberikan kacang-kacangan, kismis, popcorn, sayuran mentah, buah-buahan yang tak dikupas atau selai kacang pada anak-anak dibawah usia 2 tahun.
2.
Jangan memberikan madu kepada bayi, karena madu berpotensi menyebabkan gangguan perut pada bayi.
3.
Jangan memberikan buah bit, bayam, atau segala jenis umbi-umbian berwarna hijau sebagai makanan utama kepada anak usia 1 – 2 tahun. Konsentrasi kandungan nitratnya yang tinggi bisa menurunkan kadar hemoglobin si kecil.
4.
Jangan menambahkan garam, gula atau bumbu-bumbu berasa tajam/menyengat ke dalam makanan bayi buatan sendiri. Bila anda menghendaki anak belajar makan makanan yang sama dengan makanan keluarga, sisihkan sebagian dulu untuk si Batita dan barulah anda memasukkan bumbu ke dalam masakan tadi untuk keluarga.
5.
Saat bayi rewel, jangan gunakan kue-kue sebagai ”empeng” untuk menenangkannya.
6.
Jangan gunakan sayuran dalam kaleng kepada bayi, karena makanan jenis ini biasanya penuh dengan kandungan sodium dan zat-zat adiktif. Bacalah lebih dulu label pada kemasannya. Sayuran beku umumnya mengandung sedikit atau bahkan sama sekali tidak memiliki kandungan sodium.
7.
Jangan menggunakan microwave untuk memanaskan makanan bayi. Bahkan pada makanan yang dimasak sebentar pun tak menutup kemungkinan adanya bahaya saat dipanaskan kembali. Bila terpaksa harus melakukannya, manfaatkan defrost cycle dan pastikan Anda sering memeriksa dan mengaduknya. Jangan lupa untuk selalu mengecek suhunya dengan menyentuhkan sendok makanan ke bagian luar bibir atas anda. Pastikan sendok dan peranti masak yang anda gunakan benar-benar dicuci bersih sebelum digunakan untuk menyuapi si kecil.
8.
Saat memberi si kecil makan malam, jangan pernah menempatkan makanan cair dalam botol dengan dot berlubang besar. Selain amat berbahaya (amat mungkin membuat si kecil tersedak), juga tak membangun kebiasaan makan yang baik serta berdampak buruk pada kesehatan giginya.
9.
Jangan memberi buah-buahan yang kelewat asam, seperti jeruk, nanas kepada anak dibawah usia 1 tahun. Asam yang terlalu tajam bisa merusak sistem pencernaan bayi yang memang belum berkembang secara sempurna.
10.
Mengingat putih telur yang berpotensi menyulut reaksi alergi, sebaiknya jangan berikan kepada bayi dibawah usia 1 tahun. Kuning telur yang sudah dimasak jauh lebih baik bagi kesehatan bayi.
11.
Jangan pernah memaksa anak untuk makan. Untuk memulai pemberian makanan padat, mulailah dengan 1 – 2 sendok makan. Si kecil akan menuntun anda kok untuk mengenali seperti apa pola makanannya dan makanan apa saja yang disukainya.
12.
Selama 2 tahun pertama, jangan membatasi asupan lemak dalam makanan buat si kecil. Lemak amat dibutuhkan dalam proses tumbuh kembangnya. Jadi tak perlu khawatir mereka akan jadi kegemukan.

(NOVA 1113/XXII, 22-28 Juni 2009)

Seberapa Kenalkah Kita Terhadap Anak??


Setiap tahun ajaran baru, kutemui anak-anak yang baru dan masalah yang kuhadapi pun selalu baru dan berbeda tiap tahunnya. Dulu pernah kumiliki seorang murid yang cukup unik dan membuatku kehabisan akal untuk menghadapinya. Walau sudah beberapa tahun yang lalu, tapi aku masih ingat bagaimana rupa dan sifat anak itu, namanya Irfan.
Irfan adalah anak yang pendiam, sering bolos sekolah, tidak pernah mengerjakan PR, dan sifat-sifat buruk lainnya. Yang lebih parah, walau ditegur bagaimanapun dia akan diam seribu bahasa, tidak pernah membantah untuk membela diri atau mengiyakan apa yang dia lakukan. Bahkan orang tuanya pun angkat tangan dengan sifat anaknya. Dia dapat lulus ujian pun merupakan anugerah yang tak terhingga.
Sampai suatu hari aku bertemu kembali dengan orang tuanya Irfan, dan mereka berharap jika kelas tiga nanti mudah-mudahan sayalah yang menjadi wali kelas adiknya Irfan. Aku hanya tersenyum sambil berharap,” aduuuh jangan dong.” Ujarku dalam hati saat itu. Bukan aku memilih-milih anak,tapi rasanya cape juga kalau kita berhadapan dengan suatu masalah yang sama.
Rupanya, apa yang terjadi pada diri kita tak selamanya sesuai dengan apa yang kita harapkan. Suatu hari, di awal-awal masuk sekolah, aku kembali mengajar di kelas tiga. Aku masuk ke kelas yang kebetulan akulah wali kelasnya. Kuperhatikan seorang anak yang rasanya tak asing lagi dengan wajahnya. Saat itu tak banyak yang kupikirkan, tapi aku penasaran. Ku baca biodatanya, ternyata dia adalah adiknya Irfan, namanya Ikhsan. Sifat dan kelakuannya pun tak jauh beda dengan kakaknya. (Saat ini yang bisa kulakukan adalah berdoa dan berharap semoga tahun ini tak ada kendala apa pun, anak-anak lulus dengan nilai yang baik ).
Beda lagi dengan tahun kemarin kumiliki seorang murid yang tak kalah uniknya. Namanya Santoso. Kebetulan dia agak lambat dalam belajar di banding dengan teman-temannya yang lain. Kembali rasa cemas menghantuiku, takut kalau anak tersebut tidak lulus. Apalagi dia selalu menjadi olok-olok teman-temannya, walau berulangkali kuingatkan anak-anak agar jangan saling olok-olok. Tapi namanya juga anak-anak. Teman-temannya memanggil dia dengan sebutan Pentium dua ( karena kelambanannya).
Tapi yang namanya nasib dan rezeki manusia, sudah ada yang mengatur. Dia lulus dengan nilai yang cukup baik. Lucunya saat pembagian kelulusan orang tuanya sudah yakin kalau anaknya pasti tidak lulus. Kalau orang tua murid yang lain bertanya,” apakah anaknya lulus atau tidak?” Tapi orang tuanya Santoso pertanyaannya lain. “Kapan ujian susulan dilaksanakan, “ ujarnya sambil menyiapkan catatan kecil untuk menuliskan jadwal ujian susulan.
Kali ini ada dua orang muridku yang kalau bolos selalu bersamaan, mereka begitu kompak, baik dalam belajar maupun bolos sekolah. Beberapa kali kupanggil orang tuanya untuk menginformasikan sekaligus konfirmasi kalau anak-anaknya sering bolos. Tapi beberapa kali kupanggil orang tuanya tak kunjung datang. Hingga suatu hari orang tuanya nelpon dan menanyakan keadaan anaknya. Kami sepakat hari senin tanggal satu Desember, orang tuanya datang ke sekolah.
Aku konfirmasikan keadaan anak yang bernama Riwan, kalau dia sering bolos sekolah sambil kuperlihatkan absensi sebagai bukti kalau dia sering bolos sekolah. Rupanya anak tersebut dari rumah pergi sekolah, tapi tidak pernah sampai ke sekolah. Akhirnya aku dan guru BP dengan pendekatan sehalus mungkin, bertanya pada Riwan dan Asep ( Asep sahabat Riwan yang selalu kompak dalam hal bolos).
Jawabannya membuat kami terkejut, aku, guru BP dan orang tua Riwan. Dia tidak sekolah karena mencari uang dengan cara mencari plastik bekas, kardus bekas dan barang rongsokan lainnya untuk dijual. Kami sangat kaget dan spontan bertanya untuk apa uang hasil penjualan barang tersebut.
Sambil berlinangan air mata, meluncur cerita Riwan yang membuat dadaku sesak ketika mendengarnya. Suatu hari Riwan, Asep dan Hendra pergi ke sekolah dengan mengendarai sepeda. Hari itu hari Senin, mereka berboncengan naik sepeda, satu sepeda dipakai bertiga, mereka mengendarai sepeda dengan kencang karena takut kesiangan. Bisa dibayangkan, sepeda kecil yang cukup untuk satu orang, maksimal dua orang digunakan bertiga dan ngebut pula.
Mereka tidak sadar di depan mereka ada motor yang melaju tak kalah kencang. Sepeda mereka kehilangan keseimbangan dan hampir terjadi tabrakan. Beruntunglah pengendara motor begitu cekatan sehingga dia dapat menghindari tabrakan. Tapi sayang sekali motor tersebut masuk selokan dan mengakibatkan rusak walaUu tidak parah. Pengendara motor merasa kesal dan kebetulan juga si pengendara adalah anggota sebuah Gank yang sangat ditakuti anak-anak muda termasuk anak SMP.
Sepertinya hukum rimba mulai berlaku, yang kuat dialah yang berkuasa dan dapat melakukan apa pun sesuka hatinya. Si pengendara motor dengan sesuka hatinya meminta ganti rugi dan mengancam jangan bilang siapa-siapa, kalau berani melapor rasakan akibatnya. Si Pengendara motor meminta ganti rugi sebesar Rp 300.000.00 .
Mungkin bagi sebagian orang apalah artinya uang Rp 300.000.00 tapi bagi anak-anak, betapa besarnya uang tersebut. Apalagi bagi anak yang hanya diberi uang jajan sebesar Rp. 1000.00 . Tiap pagi di sebrang sekolah ketiga anak tersebut selalu ditunggu oleh si pengendara motor sambil mengancam dengan benda tajam, kapan mau membayar ganti rugi.
Uang Rp. 300.000.00 di bagi tiga, masing-masing anak harus membayar Rp. 100.000.00. Bagi Asep yang uang jajannya Rp. 5.000.00/ hari mungkin tidak menjadi masalah, cukup dengan memecahkan celengan yang dia kumpulkan berbulan-bulan.
Orang tua Riwan terhenyak sambil berujar.
“Kenapa kamu nggak bilang sama mamak?”
“Saya kasihan sama mamak,” ujar Riwan terbata-bata.
Kebetulan orang tua Riwan hanyalah pedagang kecil di sebuah pasar kaget di daerah kami.
Semua itu menjadi jawaban bagi kami dan sekaligus pelajaran berharga bagi kami, terutama untuk diriku pribadi. Setiap manusia di muka bumi ini, sekecil apa pun yang mereka lakukan pasti memiliki alasan. Aku merasa sedih dengan kenyataan ini, sekaligus menimbulkan tanya besar. Kenapa dalam situasi sesulit itu seorang anak tidak mau berterus terang pada orang tuanya? Padahal orang tua adalah tempat bersandar anak-anaknya.
Dan kita pun patut untuk malu, ternyata selama ini kita tidak kenal anak-anak kita. Tentang keinginan-keinginannya, harapan dan apa yang mereka rasakan saat ini.

(Oleh: Nia's Mom)