Jumat, 03 Juli 2009

Disiplin Buat Anak




Banyak Orang tua yang pengen anak disiplin tapi kadang tidak sesuai dengan kondisi anak...hmmm...kita merasakan dulu ..ketika dahulu masa-masa kita Usia SD..setiap mau pergi sekolah...masuk jam 7.00 harus ngepel dulu, nyapu dulu, nyuci piring dulu...tapi kadang pada saat melakukan itu bete banget.... akhirnya kalo setiap hari abis sholat subuh...duuuh bebaaaan..malees...bukan seneng mau kesekolah tapi harus mengerjakan pekerjaan rumah dulu...

apa manfaat kita membiasakan anak nyuci piring tiap pagi atau ngepel tiap pagi? Apakah maksudnya.....agar anak belajar bertanggung jawab dan disiplin?...... Tujuan ini sangat baik.
Tetapi jangan sampai tujuan ini menimbulkan dampak negative lain pada anak.

Misalnya, apakah kegiatan di pagi hari yang bagi orang dewasa dianggap biasa
tapi bagi anak mungkin dampak menguras energinya dapat berdampak pada energy
yang dikeluarkan anak di sekolah?

Apakah tidak malah ketika sekolah ketika seharusnya mereka mengeluarkan energy yang cukup malah menjadi kelelahan? Kalo saya jadi anak, mungkin saya juga akan bĂȘte dan cemberut setiap pergi sekolah jika harus ngepel dulu. Dalam hati saya
mungkin akan setiap hari berkata “capeeeekk deeeeh”.

untuk anak usia SD pembiasaan mengerjakan rutinitas harian ini dapat dilakukan
bertahap, sedikit demi sedikit. Dari mulai sepekan sekali, tiap hari libur,
tiap hari senin dan kamis lalu setiap hari.......

Jika hanya mencuci piring saja barangkali rasional untuk dilakukan setiap hari, tapi jika harus ngepel juga,mungkin dapat dipikirkan kembali. ......Ada banyak cara lain untuk membiasakan anak bertanggung jawab dan disiplin setiap hari di rumah tanpa harus menimbulkan dampak negative lain di sekolah:
1. Membereskan kamar tempat tidur sebelum pergi,
2. Menyimpan sepatu pada tempatnya,
3. Menyimpan pakaian kotor pada tempatnya,
4. Menyiapkan agenda pelajaran untuk besok pada sore hari dan seterusnya.

(Oleh: Ihsan Baihaqi)

Bantu Si Kecil Bergaul Sehat



Sebagai orangtua, anda bisa mengarahkan si kecil agar tak terlibat ke dalam geng anak bermasalah dan membantunya mengembangkan pertemanan yang sehat dan aman baginya.

Bila anak tak punya geng:
• Bantu anak menemukan aktivitas di luar sekolah (yang jauh dari keberadaan geng), dimana ia bisa menemukan teman baru yang punya kesamaan hobi.
• Rancang pertemuan sosial yang bersifat akrab, baik di rumah anda, di rumah teman, atau di tempat lain yang netral.
• Undanglah seorang anak, bisa juga salah satu anggota geng, untuk menghabiskan waktu bersama si kecil di rumah. Acara menginap biasanya memberi pengalaman yang mengakrabkan.
• Jadikan rumah anda sebagai tempat yang menyenangkan dan terbuka bagi siapa saja. Sering-seringlah mengundang anak-anak lain dan biarkan putra-putri anda mengembangkan pertemanannya disetiap kesempatan yang ada.
• Besarkan hati anak, tak masalah bila tak jadi anggota geng tertentu, sepanjang ia punya teman-teman yang baik di sekolah.

Bila anak anggota geng:
• Ajarkan dia nilai-nilai empati dan masukan berharga lainnya. Galilah perasaanya bila seseorang menyakiti hatinya, atau ketika ia dikucilkan. Lalu minta si kecil menempatkan diri pada posisi anak yang perasaannya terluka karena dikucilkan tadi.
• Bantulah ia temukan teman lain di luar geng. Daftarkan dalam kursus atau aktivitas lain yang memungkinkan ia menyalurkan hobinya, sekaligus memberi kesempatan bertemu teman baru. Lalu atur pertemuan yang memungkinkan mereka bermain bersama di luar jam sekolah.
• Kepada gurunya, sampaikan ide soal pengelompokan kembali murid-murid di kelas. Guru bisa memisahkan murid dari gengnya, dengan mengelompokannya bersama teman lain yang bukan anggota geng.
• Jika anak dikeluarkan dari gengnya untuk sementara waktu atau bahkan selamanya, bantulah ia menyelesaikan masalah dengan caranya sendiri. Anda jangan ikut campur dengan melabrak si pemimpin geng, bahkan ibunya. Ingatkan si kecil, masih banyak anak baik lainnya yang ingin berteman dengannya.

(NOVA, 1109/XXII 25-31 Mei 2009)

Jangan Jadi Orangtua “Beracun”!!



Mari evaluasi gaya pengasuhan anda kepada si kecil, sekaligus menelusuri dari mana gaya itu terbentuk!

Menjadi racun berarti membahayakan, membuat hidup seseorang terkontaminasi atau terkena pengaruh buruk. Sebutan racun ini ditujukan kepada para orangtua berperilaku buruk, sehingga menimbulkan kerusakan parah terhadap kondisi emisonal sang anak.
Akibat lebih jauh, rasa percaya diri anak menjadi amat rendah. Citra dirinya pun menjadi begitu buruk akibat terkontaminasi tadi. Jadi, yang dimaksud disini adalah para orangtua yang melakukan berbagai tindak kekerasan kepada anaknya baik secara verbal, fisik maupun seksual.
Demikian pula halnya para orangtua yang tidak mencukupi, bahkan mengabaikan kebutuhan emosi anaknya. Tak jarang pola pengasuhan yang dipenuhi tindak kekerasan ini akan begitu kuat tertanam, sehingga tanpa disadari terbawa terus sampai anak berusia dewasa.
Yang memprihatinkan lagi, ada begitu banyak orangtua dengan pola pengasuhan penuh racun ini secara konsisten meinggalkan warisan berupa rasa bersalah dan rasa malu pada diri anak-anaknya. Ironisnya, tak sedikit pula orangtua yang menganggap kekejaman adalah perbuatan yang sah dilakukan, terutama saat anak berbuat salah.
Lalu, darimana para orangtua “beracun” ini mempelajari perilaku tercelanya? Ya, anda benar! Mereka belajar dari orangtuanya sendiri, yang pada giliran sebelumnya juga belajar dari orangtua mereka pula.
Memang sih ada segelintir orang yang menghubungkan masalah emosional dalam dirinya dengan pola pengasuhan yang diterima dari orangtuanya dulu. Namun yang lebih sering terjadi masalah-masalah emosional ini baru akan muncul begitu mereka memainkan peran sebagai orangtua.
Semua Pernah Berbuat Salah
Sesungguhnya para orangtua juga menyadari, membangun sebuah keluarga merupakan moment yang paling membuatnya stress. Seringkali bagian tersulit dari peran sebagai orangtua adalah mengakui perilakunya yang patut dipertanyakan tadi merupakan pengaruh buruk dari orangtuanya semasa lalu.
Lantas, mengapa sulit? Tak lain karena dulu mereka dikondisikan begitu tertekannya, sehingga tak pernah berani melontarkan kritik atau menilai kesalahan yang ada dalam diri orangtuanya. Kadang kala tak hanya apa yang mereka lakukan yang menjadi ancaman bagi perkembangan anak. Bahkan apa yang tak mereka lakukan pun bisa membahayakan kehidupan anak.
Kondisi ini tentu akan sangat mengganggu. Anak baru bisa mengakui, orangtua dulu telah menyakiti jiwanya bila menggunakan ”kaki lilin” alias berdiri pada posisi yang lebih tinggi dari posisi anak selama ini.
Tindak kekerasan secara verbal dari orangtua terhadap anaknya juga digolongkan dalam pengasuhan beracun yang amat sangat membahayakan. Meski tindak kekerasan ini acapkali dinilai tak memiliki bukti signifikan.
Tak mengherankan bila tindak kekerasan secara verbal kerap dianggap lumrah sebagai perilaku keluarga. Padahal berkas goresannya begitu menoreh tajam pada kondisi kejiwaan anak. Tak terlihat, namun amat berpotensi menghancurkan jiwanya.
Suka Menyalahkan Diri
Kabar buruknya, anak-anak yang dibesarkan oleh orangtua dengan pola pengasuhan beracun justru terbiasa menyalahkan dirinya sendiri atas kekejaman yang dilakukan orangtuanya. Mereka cenderung tumbuh menjadi sosok orang dewasa yang dibebani citra diri amat rendah dan gambaran diri serba buruk. Sedangkan kabar baiknya, masa lampau memang tak bisa diubah atau diperbaiki lagi. Namun, tak demikian halnya dengan masa depan.
Tak sedikit orangtua hebat yang berani memutuskan mata rantai atas hal ekstrim yang dialaminya semasa kecil. Meski mengalami hal yang tak sepatutnya diterima, para orangtua luar biasa ini mampu tampil sebagai model peran yang mengagumkan bagi anak-anaknya.
Ada seorang ibu muda yang keberhasilannya dalam hal ini sungguh patut diacungi jempol. Menurutnya setiap keputusan yang dibuat mengenai pengasuhan anak justru menuntutnya mengambil posisi berlawanan dengan posisi ketika ia dulu dibesarkan. Tentu saja bukan hal yang mudah, sehingga ketangguhan memang sangat dituntut. Dengan berjalannya waktu, perubahan persepsinya membuahkan hasil manis. Gaya pengasuhannya berkembang alias tidak diam di tempat seperti yang dilakukan orangtuanya dulu. Anak-anaknya tumbuh menjadi individu yang mengagumkan. Poin terbesarnya adalah keberanian untuk mengakui ada yang salah dalam pola pengasuhan yang amat menyakitkan di masa kecil. Sekaligus keberanian untuk memutuskan tak akan mengulangi kesalahan yang sama, yakni menerapkan pola pengasuhan orangtuanya dulu.

(NOVA 1110/XXII 1-7 Juni 2009)

AMBILKAN BULAN



Written by : AT Mahmud

ambilkan bulan, bu
ambilkan bulan, bu
yang slalu bersinar di langit

di langit bulan benderang
cah'yanya sampai ke bintang

ambilkan bulan, bu
untuk menerangi
tidurku yang lelap di malam gelap

O AMELIA



Written by : AT Mahmud

o amelia gadis cilik lincah nian
tak pernah sedih riang slalu spanjang hari
o amelia gadis cilik ramah nian
dimana mana amelia temannya banyak