Selasa, 07 Juli 2009

Permainan Anak Tradisional Terancam Punah



Berbagai jenis permainan anak tradisional yang banyak tersebar diberbagai daerah di Sumut maupun daerah lainnya di Indonesia terancam punah karena tidak ada lagi yang memainkannya.

Antropolog Universitas Negeri Medan (Unimed), Dr. Phil Icwan Azhari, di Medan, Senin, mengatakan, dewasa ini permainan anak tradisional seperti patok lele, congkak, galasing, engklek, sambar elang dan enggrang, sudah tergantikan oleh permainan yang lebih modern seperti video games maupun bombom car.

Padahal, katanya, aneka permainan tradisional tersebut memiliki cukup banyak keunggulan yang tidak didapat pada permainan modren, seperti tumbuhnya rasa solidaritas atau kesetiakawanan, rasa empati kepada sesama, keakraban dengan alam dan selalu menjunjung nilai-nilai sportivitas.

Selain itu sisi positif lainnya yang dapat diperoleh dari aneka permainan tradisional tersebut adalah memungkinkan timbulnya inisiatif, kreatifitas anak untuk menciptakan dan inovasi untuk memproduksi sendiri.

"Dengan munculnya daya kreatifitas itu, sianak kemudian akan mencoba mencari desain baru dan mengadaptasi permainan yang mereka butuhkan," kata Ichwan yang juga Ketua Program Studi Antropologi Sosial Pascasarjana Unimed.

Menurut dia, aneka permainan anak tradisional itu juga akan menjauhkan anak dari sikap konsumtif, menampilkan kegembiraan, gerak tubuh yang ekspressif, disamping juga melatih tingkat kecerdasan dan logikanya.

"Misalnya saja pada permainan Galasing yang harus dimainkan oleh minimal empat orang untuk satu grup. Keempat orang ini akan bahu-membahu mengalahkan lawannya agar jangan sampai melewati daerah yang dijaganya," katanya.

Berbeda halnya dengan permainan anak modren yang semuanya diproduksi oleh pabrik secara massal, sehingga kreatifitas anak untuk menciptakan sendiri permainannya menjadi hilang dan rata-rata permainan tradisional itu dimainkan oleh satu oranag saja.

Akibatnya sianak akan asyik dengan dirinya sendiri saja tanpa peduli dengan teman-teman sebaya dan lingkungannya.

Menurut Ketua Pusat Studi Sejarah dan Ilmu Sosial (Pussis) Unimed itu, permainan modren cenderung akan menjadikan anak individualis dan berbasis materi.

Anak setiap saat akan meminta uang untuk membeli alat permainannya. Karenanya permainan modren potensial menjadikan anak sebagai generasi yang hanya menuntut, meminta, kurang usaha, tidak inovatif dan tidak kreatif, untuk memproduksi dan mereproduksi apa yang dibutuhkannya.

"Sudah saatnya orang tua untuk kembali mengajarkan aneka permainan anak tradisional itu kepada anaknya. Karena selain lebih mendidik, aneka permainan tradisional itu juga lebih murah biayanya," katanya.

(Sumber: http://oase.kompas.com)

Permainan Anak



"Permainan anak tidak terlepas dengan masa kanak-kanak yang indah dan menggembirakan."
--Filosof Anak--

Apabila kita ditanya tentang masa kanak-kanak, tentu kita akan dengan suka cita menceritakan berbagai pengalaman menyenangkan yang pernah dialami. Semuanya begitu indah dan menggembirakan. Mengapa demikian? Karena masa kanak-kanak adalah masa bermain. Hampir atau bahkan semua aktivitas anak-anak adalah bermain!

Namun masih ada orang tua yang beranggapan bahwa bermain adalah aktivitas membuang-buang waktu. Mereka lebih suka melihat anaknya belajar dengan duduk rapih tanpa keributan, daripada bergerak (moving) dan bersuara (noice).

Bermain cara efektif untuk belajar
Padahal, jika semua orangtua tahu dan menyadari bahwa aktivitas gerak dan suara anak (bisa disebut bemain) adalah cara yang paling efektif untuk anak belajar sesuatu. Sebab, bermain merupakan aktivitas yang menyenangkan bagi anak.

Lewat permainan, anak akan mengalami rasa bahagia. Dengan perasaan suka cita itulah syaraf/neuron di otak anak dengan cepat saling berkoneksi untuk membentuk satu memori baru. Itulah sebabnya mengapa anak-anak dengan mudah belajar sesuatu melalui permainan.

Perlunya bermain

* Belajar dari permainan (Learning by playing)
Permainan seharusnya memiliki nilai seimbang dengan belajar. Anak dapat belajar melalui permainan (learning by playing). Banyak hal yang dapat anak pelajari dengan permainan, keimbangan antara motorik halus dan motorik kasar sangat memengaruhi perkembangan psikologi anak. Seperti kata Reamonn O Donnchadha dalam bukunya The Confident Child "Permainan akan memberi kesempatan untuk belajar menghadapi situasi kehidupan pribadi sekaligus belajar memecahkan masalah".

* Permainan mengembangkan otak kanan
Disamping itu tentu saja anak mempunyai kesempatan untuk menguji kemampuan dirinya berhadapan dengan teman sebayanya dan mengembangkan perasaan realistis akan dirinya. Bermain melalui permaianan memberi kesempatan pada anak untuk mengembangkan otak kanan, kemampuan yang mungkin kurang terasah di sekolah maupun di rumah.
* Permainan mengembangkan pola sosialisasi dan emosi anak
Dalam permainan kelompok, anak belajar tentang sosialisasi yang menenpatkan dirinya sebagai mahluk sosial. Anak mempelajari nilai keberhasilan pribadi ketika berhasil memasuki suatu kelompok. Ketika anak memainkan peran 'baik' atau 'jahat' membuat anak kaya akan pengalaman emosi, anak akan memahami perasaan yang terkait dari ketakutan dan penolakan dari situasi yang dia hadapi.

Dengan kegiatan bermain memberikan kesempatan kepada anak untuk mempraktikkan rasa percayanya kepada orang lain dan kemampuan dalam bernegosiasi, memecahkan masalah (problem solving) atau sekedar bergaul dengan orang sekitarnya.
Jenis permainan
Pada dasarnya, semua jenis permainan mempunyai tujuan yang sama yaitu bermain dengan menyenangkan! Yang membedakan adalah pengaruh atau efek dari jenis permainan tersebut. Ada dua jenis permainan, yaitu: Permainan Aktif dan Permainan Pasif. Permainan aktif dan pasif iini hendaknya dilakukan dengan seimbang.

* Permainan olah raga (sport):
Bagi orang dewas, olah raga bukan lagi menjadi sebuah permainan tetapi sesuatu yang serius dan kompetitif. Namun bagi anak, olah raga bisa menjadi satu permainan yang menyenangkan yang mengandung kesenangan, hiburan, dan bermain, tetapi tidak juga terlepas dari unsur partisipatif dan keinginan untuk unggul.

Dalam permainan olah raga anak mengembangkan kemampuan kinestetik dan pengembangan motivasi untuk menunjukkan keungulan dirinya (penekanan bukan pada persaingan tapi pada kemampuan) memberi kekuatan pada dirinya sendiri serta belajar mengembangkan diri setiap waktu.
* Permainan perkelahian (body contact):
Jenis permainan ini termasuk permainan modern, tapi banyak orang tua maupun guru memandangnya skeptic dan cemas, ini beralasan dari efek yang mungkin serius. Permainan ini merupakan jenis permainan modifikasi yang menuntut keseriusan anak untuk memenuhi kebutuhan akan kekuasaan.

Hal tersebut sehat dan positf bagi anak, berguna untuk menguji keunggulan dan kekuatan di lingkungan sekitar. Jenis permainan ini adalah untuk menguji kemampuan dan pemikiran anak dalam dunia nyata dengan segala akibatnya.

Katagori permainan pasif

* Permainan mekanis
Seiring perkembangan, jaman dan teknologi memberi pengaruh besar dalam perkembangan jenis permainan untuk anak. Alat teknologi canggih seperti komputer bukan lagi milik orang dewasa, tapi telah menjadi barang biasa buat anak-anak.

Berbagai games atau permainan virtual telah tersedia di dalamnya (computer). Bermain computer tidak sama dengan bermain bersama teman, anak bermain sendiri dengan kesenangannya.

Sisi negatif
Sisi negatif permainan mekanis ini adalah kurangnya pembentukan sikap anak untuk menerima dan memberi (take and give). Anak memegang kendali penuh atas 'teman mainnya' dan 'si teman mainnya' akan melakukan apapun yang diinginkan anak. Kendali penuh ini akan menimbulkan reaksi serius bila anak menyalurkannya dalam pertemanan di lingkungan sosialnya.

Sisi positif
Namun, hal positif anak memiliki keterampilan komputer yang akan diperlukan anak sebagai sarana hidupnya.

* Permainan fantasi
Fantasi merupakan praktik permainan yang khusus dilakukan sendiri. Anak dapat membentuk dunia sesuai dengan keinginannya (imaginasi).Sebaiknya, orang tua tidak memaksa anak untuk selalu bermain dengan teman-temannya karena akan menciptakan kesan bahwa bermain sendiri itu salah.

Permainan fantasi selain proses kreatif mengembagkan kemampuan sisi otak kanan, juga untuk pembentukan kecerdasan interpersonal (salah satu dari delapan kecerdasan teori multiple intelligence, Howard Garner)

Mengenali Autis Sejak Dini



Tak perlu menunggu hingga besar untuk mengetahui si kecil mengalami autis atau tidak. Sejak bayi pun bisa dideteksi. Sering terjadi, setelah si kecil beranjak besar baru diketahui ia mengalami gangguan perkembangan, entah lambat bicara, retardasi mental, hiperaktif, autis, dan lainnya. Itu pun bila si orang tua mencurigai anaknya bermasalah dan segera membawanya ke dokter. Kalau tidak, tentulah makin terlambat saja diketahuinya. Tak mudah untuk mengetahui apakah anak kita mengalami gangguan perkembangan atau tidak, terlebih untuk membedakan autis dengan gangguan penyimpangan lain. Misal, membedakan autis dengan retardasi mental. Pada anak retardasi mental, seluruh aspek perkembangannya lambat, baik kecerdasan, sosial, maupun motorik halusnya. Jika diukur IQ-nya pun dibawah 70, hingga sulit membedakannya dengan anak autis, karena respon pada anak autis juga lambat. Makanya, anak autis cenderung bersikap cuek.

Tanda-tanda anak hiperaktif pun hampir mirip dengan anak autis, yang biasanya terjadi di usia berjalan. Misal, anak tak bisa diam, tak bisa menatap lawan bicaranya, dan tak bisa konsentrasi. Perhatiannya juga mudah beralih, bila diajak ngomong seolah-olah tak mendengarkan. "Nah, tanda-tanda ini juga dijumpai pada anak autis. Biasanya, 50 persen anak autis juga tak bisa diam dan konsentrasinya buruk." Terlebih jika hiperaktifnya disertai lambat bicara, makin susahlah membedakannya, apakah autis atau lambat bicara.

Manifestasi gejala yang mirip ini, bisa ada di pelbagai gangguan. Hingga, biasanya tak dijadikan gejala khas pathognomonis atau karakteristik utama dari suatu gangguan. Misal, gejala panas. Bukankah bisa pertanda sakit gigi, radang tenggorok, radang telinga, tifus, malaria, atau demam berdarah? Hingga, kita tak bisa bilang, "Oh, si kecil panas, pasti demam berdarah.", misal. Sebab, untuk memastikan demam berdarah harus ada pathognomonis-nya. Misal, bila diperiksa darahnya, trombositnya turun atau bila lengan atas dipencet, di bagian bawahnya dijumpai bintik-bintik merah, berarti ada perdarahan karena pembuluh darahnya rapuh. "Jadi, tak semua gejala panas itu menandakan demam berdarah. Demikian pula dengan gangguan perkembangan, perlu ditandai apa yang menjadi pathognomonis-nya."

AUTIS INFANTIL

Nah, autis pada bayi, sebenarnya bisa diketahui sejak usia beberapa minggu setelah kelahirannya, dikenal dengan istilah autis infantil. Autis ini menempati spektrum paling berat, hingga disebut juga dengan nama penyakit Kanner. Ada juga yang menempati spektrum ringan, namanya ASD atau Autistic Spectrum Disorder.

Ibarat gambar yang diberi warna, autis infantil atau Kanner itu hitam pekat, sementara yang ASD abu-abu karena sebetulnya mendekati normal. "Biasanya ASD lebih sulit dibedakan dengan gangguan lain yang bukan autis, seperti anak lambat bicara atau hiperaktif." ASD biasa juga disebut autisma atypical (tidak khas), asperger atau semantic-pragmatic disorder karena ASD akan tampak di usia sekitar 2 tahun atau saat ia mulai bicara. "Di sini anak sebenarnya bisa bicara tapi tak bisa berkomunikasi atau tak bisa menyusun kata. Hubungan dengan orang pun tak hangat atau tak normal.

Bila autisnya infantil atau terjadi sejak bayi, tentunya tak lagi dalam taraf ringan. Pada bayi, autis bisa dideteksi dari perkembangan sosial dan emosionalnya. "Bayi yang mengalami penyakit autisma, sosial emosinya tak berkembang dan tak berjalan semestinya. Dengan kata lain, mengalami distorsi atau penyimpangan perkembangan yang sangat menyeluruh." Hal ini bisa dilihat, misal, ketika si ibu menyusui ASI. Bila pada bayi normal, kala disusui akan langsung menempelkan tubuhnya ke dada si ibu dan sambil disusui menatap sang ibu sebagai tanda adanya attach atau kelekatan emosional dengan ibunya. "Jadi, ada insting melekat pada ibu. Lagi pula otak anak merekam bagaimana kedekatan dia dengan ibunya sejak dalam rahim."

Nah, pada bayi yang autis, saat disusui oleh ibu, tubuhnya akan kaku. Meski ia mengisap, karena memang ada insting lapar pada bayi, tapi secara emosi tak ada kelekatan dengan ibu. "Yang bisa merasakan seperti ini adalah ibunya sendiri. Hingga seringkali si ibu akan merasa seperti memeluk benda, entah guling, sebatang kayu atau bungkusan. Jadi, tak ada hubungan sosial emosinya." Begitupun bila bayi ditelentangkan, misal. Normalnya, usia beberapa minggu bayi akan spontan tersenyum meski tak kita apa-apakan.

Setelah usia 2-3 bulan mungkin akan berespon tertawa, misal, bila diajak bercanda. Jadi, ada kontak mata. Jika menangis pun jelas, entah karena lapar atau buang air. Makin usia bertambah, pada bayi normal juga akan aktif bereksplorasi atau punya keingintahuan besar pada objek-objek di sekelilingnya. "Sedangkan bayi autis, tak demikian. Ia tak berespon apa pun, entah kala diajak bercanda atau bercakap-cakap." Bila menangis, tangisannya juga tak jelas disebabkan apa. Jikapun ada kontak mata, matanya mungkin terlihat kosong tak bermakna. Kala tiba masa ekplorasi, ia juga tak tertarik dengan yang ada di sekelilingnya. Kalau, toh, tertarik, hanya pada satu objek saja ia bisa lekat dan terus-menerus.

Jadi, adanya penyimpangan dari perkembangan psikososial seperti itu bisa dilihat jelas pada bayi autis." Tentunya gejala-gejala autis bukan cuma itu. Makin usianya bertambah, ia tak bisa berinteraksi. "Dari segi kuantitas dan kualitas, interaksinya menurun dengan orang sekitarnya, juga tak ada perhatiannya terhadap lingkungan."

PENDETEKSIAN

Untuk mendeteksi autis pada bayi, menurut Dwidjo, bisa dilakukan dengan prosedur pemeriksaan rutin yang dilakukan tiap dokter atau bidan yang menanganinya. "Jadi, selain pemeriksaan TB dan BB, juga harus pemeriksaan perkembangan psikososial dan psikomotoriknya. Seperti, bagaimana kala kepala diangkat, tengkurap, jalan, dan sebagainya. Meski pada bayi autis psikomotorik ini sebenarnya tak terlalu penting, kecuali pada perkembangan mental yang seluruhnya terlambat." Jadi, dengan prosedur pemeriksaan yang berjalan baik, sebetulnya masalah autis pada bayi bisa terdeteksi sejak awal. "Sayangnya, para dokter sering tak punya waktu banyak untuk melakukannya." Itu sebab, diharapkan ibu sendirilah yang bisa mencatat bagaimana tonggak-tonggak perkembangan sosial-emosi bayinya.

Misal, usia tersenyum, melihat, atau berespon sesuai tahapan usianya. "Jika ciri-ciri yang harusnya ada tapi selama 3 bulan berturut-turut tak juga muncul, perlu dicurigai." Selanjutnya, ada baiknya lakukan diagnosa autis pada dokter yang berkompeten untuk itu, entah dokter anak, psikolog atau psikiater anak. Dengan demikian, penanganannya tak salah dan bisa menyeluruh.

PENANGANAN

Bila sejak awal autis pada bayi terdeteksi, penanganan yang dilakukan bisa memadai. "Karena prinsipnya, bayi mengalami hambatan perkembangan. Yang menghambatnya adalah penyakit autis. Maka, prinsip penanganannya, anak harus dirangsang terus-menerus dan didorong agar mencapai perkembangan optimal. Seperti diketahui, ada empat dimensi perkembangan pada bayi, yaitu motorik halus, motorik kasar, bahasa dan komunikasi, serta sosialisasi. "Jadi, sejak bayi 4 hal inilah yang perlu dilatih satu per satu agar ia mampu mencapai tonggak-tonggak perkembangannya. Setiap dimensi dirangsang dengan teknik dan metode yang sesuai kebutuhannya."

Karena anak autis tak punya interaksi sosial dan emosional yang memadai, metode yang dilakukan adalah pendekatan perilaku atau stimulasi yang disebut dengan ABA (Applied Behaviour Analysis). "Biasanya ini dilakukan untuk anak usia 1 tahun ke atas. Sistemnya dengan latihan dan pemberian pujian atau reinforcement bila ia berhasil."

Sedangkan bayi, lebih banyak diberikan rangsangan untuk sosial dan emosionalnya. Misal, bayi sering diajak berinteraksi, ditatap, didekap, dipeluk, dicium, tersenyum, dan sebagainya. "Jadi, lebih pada rangsangan sensori-motoriknya. Karena rangsang-rangsang yang sampai pada otak bayi itu 90 persen ditentukan rangsang sensori-motoriknya." Intinya, orang tua harus terus-menerus memberikan rangsang yang sifatnya mengembangkan respon sosial dan emosinya. Jangan malah meninggalkan si bayi sendirian, ya, Bu. Kalau digendong juga sebaiknya digendong depan dengan selendang, hingga ada rangsangnya bagi bayi.

Namun demikian, yang namanya gangguan perkembangan, selalu penyebabnya tak tunggal, tapi kompleks dan banyak faktor. "Tak seperti sakit malaria, kalau penyebabnya diobati akan segera sembuh. Pada gangguan seperti autis sulit dikatakan sembuh dalam arti hilang sama sekali penyakitnya, karena penyebab autis itu sendiri tak diketahui pasti." Hanya saja, tambahnya, bila sudah distimulasi dini, tahap perkembangannya akan lebih baik. Kecacatan atau hambatan dan kekurangan dalam perkembangannya setidaknya bisa diminimalkan. Hingga, ketika masanya di usia anak, taruhlah usia prasekolah, orang tua tak perlu sampai mengeluarkan biaya, tenaga, dan waktu lebih banyak untuk memberikan terapi pada anaknya. Nah, tunggu apa lagi? Segera lakukan pemeriksaan pada si kecil bila kita mencurigainya hingga bisa terdeteksi lebih dini jika ada gejala autis.

Mengenal Autisme



Secara garis besar, Autisme, adalah gangguan perkembangan khususnya terjadi pada masa anak-anak, yang membuat seseorang tidak mampu mengadakan interaksi sosial dan seolah-olah hidup dalam dunianya sendiri. Pada anak-anak biasa disebut dengan Autisme Infantil. Selain Autisme juga dikenal istilah Schizophrenia yang juga merupakan gangguan yang membuat seseorang menarik diri dari dunia luar dan menciptakan dunia fantasinya sendiri seperti: berbicara, tertawa, menangis, dan marah-marah sendiri.

Tetapi ada perbedaan yang jelas antara penyebab dari Autisme pada penderita Schizophrenia dan penyandang autisme infantil. Schizophrenia disebabkan oleh proses regresi karena penyakit jiwa, sedangkan pada anak-anak penyandang autisme infantil terdapat kegagalan perkembangan. Gejala autisme infantil timbul sebelum anak mencapai usia 3 tahun. Pada sebagian anak, gejala-gejala itu sudah ada sejak lahir. Seorang Ibu yang sangat cermat memantau perkembangan anaknya bisa melihat beberapa keganjilan sebelum anaknya mencapai usia 1 tahun. Yang sangat menonjol adalah tidak adanya atau sangat kurangnya tatap mata.

Untuk memeriksa apakah seorang anak menderita autis atau tidak, digunakan standar internasional tentang autisme. ICD-10 (International Classification of Diseases) 1993 dan DSM-IV (Diagnostic and Statistical Manual) 1994 merumuskan kriteria diagnosis untuk Autisme Infantil yang isinya sama, yang saat ini dipakai di seluruh dunia. Kriteria tersebut adalah : Harus ada sedikitnya 6 gejala dari (1), (2), dan (3) seperti di bawah ini, dengan minimal 2 gejala dari (1) dan masing-masing 1 gejala dari (2) dan (3).

1. Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial yang timbal balik.
Minimal harus ada 2 dari gejala di bawah ini :
* Tak mampu menjalin interaksi sosial yang cukup memadai : kontak mata sangat kurang, ekspresi muka kurang hidup, gerak gerik kurang tertuju
* Tidak bisa bermain dengan teman sebaya
* Tak ada empati (tak dapat merasakan apa yang dirasakan orang lain)
* Kurang mampu mengadakan hubungan sosial dan emosional yang timbal balik
2. Gangguan kualitatif dalam bidang komunikasi.
Minimal harus ada 1 dari gejala di bawah ini :
* Perkembangan bicara terlambat atau sama sekali tak berkembang. Anak tidak berusaha untuk berkomunikasi secara non-verbal
* Bila anak bisa bicara, maka bicaranya tidak dipakai untuk berkomunikasi
* Sering menggunakan bahasa yang aneh dan diulang-ulang
* Cara bermain kurang variatif, kurang imajinatif, dan kurang dapat meniru
3. Adanya suatu pola yang dipertahankan dan diulang-ulang dalam perilaku, minat, dan kegiatan.

Minimal harus ada 1 dari gejala di bawah ini :
* Mempertahankan satu minat atau lebih dengan cara yang sangat khas dan berlebihan
* Terpaku pada suatu kegiatan yang ritualistik atau rutinitas yang tidak ada gunanya
* Ada gerakan-gerakan aneh yang khas dan diulang-ulang
* Seringkali sangat terpukau pada bagian-bagian benda

Sebelum umur 3 tahun tampak adanya keterlambatan atau gangguan dalam bidang (1) interaksi sosial, (2) bicara dan berbahasa, dan (3) cara bermain yang monoton, kurang variatif. Bukan disebabkan oleh Sindroma Rett atau Gangguan Disintegratif Masa Kanak. Namun kemungkinan kesalahan diagnosis selalu ada, terutama pada autisme ringan. Hal ini biasanya disebabkan karena adanya gangguan atau penyakit lain yang menyertai gangguan autis yang ada, seperti retardasi mental yang berat atau hiperaktivitas. Autisme memiliki kemungkinan untuk dapat disembuhkan, tergantung dari berat tidaknya gangguan yang ada. Berdasarkan kabar terakhir, di Indonesia ada 2 penyandang autis yang berhasil disembuhkan, dan kini dapat hidup dengan normal dan berprestasi. Di Amerika, di mana penyandang autisme ditangani secara lebih serius, persentase kesembuhan lebih besar.

Mengatasi anak berbohong



Anak usia 3-3,5 tahun, menurut Prof. Dr. Fawzia Aswin Hadis, biasanya mulai pandai berbohong. "Di usia itu, ia cenderung sudah lancar bicara. Ia juga sudah paham akan pembicaraan orang lain," ungkap pakar psikologi anak ini. Anak pun sebetulnya sudah bisa membedakan, mana yang benar dan salah. Buktinya, ia sudah mulai pandai berbohong.

Kebohongan yang dilakukan anak, kerap dilakukannya demi melindungi diri sendiri. Si kecil sudah bisa berpikir, "Daripada dimarain Bunda, lebih baik aku bohong." Jadilah, ketika si ibu menuduhnya mengambil kue, misalnya, dengan cepat dan lantang ia akan menjawab, "Enggak!" Apalagi, seperti dituturkan Fawzia, "Jawaban itu, kan, yang paling gampang?"

Bisa juga ia berbohong karena meniru. Entah dari orangtua atau lingkungannya. Mungkin ini pun pernah Anda alami sendiri, yaitu menyuruh anak mengatakan Anda tak ada di rumah ketika telepon berdering, sementara anak tahu persis Anda berada di rumah. Memang, itu termasuk kebohongan kecil (White lies). Tapi apa yang terjadi? "Lama-kelamaan, si kecil tahu dan bisa jadi ia menirunya."

DINIKMATI

Dua penyebab itulah, kata Fawzia, yang kerap menjadi pencetus utama timbulnya kebohongan pada anak. Yaitu melihat dan meniru. "Sebab, seorang anak belum bisa merancang kebohongan. Tidak ada istilah, anak kecil punya bakat bohong. Beda dengan orang dewasa yang sudah bisa merancang kebohongan. Kalau pada anak kecil, lebih banyak demi pertahanan diri." Kendati demikian, sangat tak bijaksana jika orangtua terburu-buru memvonis si kecil sebagai pembohong, setiap ia mengemukakan hal yang tidak benar.

"Tiap anak pasti pernah melakukan hal ini. Yang perlu kita perhatikan adalah frekuensinya. Kalau sedikit-sedikit berbohong, orangtua tentu perlu bertindak. Jangan sampai keterusan hingga ia besar. Nanti susah menghentikannya," papar Fawzia. Bukan itu saja. "Sosialisasinya bersama teman-temannya pun akan susah nantinya. Dia tak bakalan dipercaya teman-temannya."

"Hobi" berbohong, harus dihentikan. Sebab jika dibiarkan saja, "Anak akan menikmati kebohongannya itu. Ia akan berpendapat, ternyata solusi dari sebuah permasalahan, gampang saja. Cukup dengan mengatakan yang tidak benar, ia pun selamat." Bahkan bisa terjadi, jika kebohongan sudah begitu tinggi tingkatnya, anak akan mencuri. "Ini sama dengan berbohong. Dalam pandangan psikologis, berbohong dan mencuri sama mekanismenya, yaitu suatu perbuatan yang tidak baik, yang melanggar norma lingkungan."

Anak yang gemar berbohong umumnya berasal dari keluarga yang kurang memiliki disiplin. Juga jika anggota keluarga kerap melakukan kebohongan. Misalnya saja, si anak dijanjikan akan diberi permen jika ia mau tidur siang. "Tapi setelah bangun, ibunya tak memenuhi janji. Bahkan bilang, tak pernah berjanji seperti itu. Nah, peristiwa itu akan terekam dalam benak anak sehingga ia akhirnya berkesimpulan, berbohong atau tak memenuhi janji, tidak apa-apa."

Lingkungan, semisal teman, bisa pula memberi andil dalam membentuk kecenderungan anak berbohong. "Bilang aja kamu mau belajar bersama di rumahku, padahal nanti kita main play station" kata si teman. Anak Anda pun, karena khawatir tak mendapat izin keluar rumah, akhirnya menuruti anjuran temannya tadi untuk berbohong.

BERBOHONG VS IMAJINASI

Tentu saja, cara orangtua memandang suatu kebohongan yang dilakukan anaknya, berbeda satu sama lainnya. Terutama untuk kebohongan-kebohongan kecil. "Bergantung dari pemahaman akan arti kebohongan itu sendiri, di samping tergantung pada kebiasaan atau budaya setempat, serta insting atau pengalaman si orangtua," jelas Fawzia. Ia memberi contoh, ada orangtua yang menganggap, kebohongan kecil yang dilakukan anaknya, lumrah saja karena ia pun pernah melakukannya saat kecil dan tak berdampak buruk. "Jadi, si orangtua merasa tak perlu meributkannya."

Masing-masing orang pun, memiliki pemahaman akan arti yang baik dan tidak baik. Fawzia mencontohkan pemulung, yang mengambil barang yang digeletakkan di depan rumah kita. "Sebab ia berpendapat, toh, barang itu sudah dibuang dan tidak terpakai. Jadi, sah-sah saja dan tak berdosa jika diambil." Beda halnya dengan orang yang sangat strict dan berpedoman, barang itu, meski tergeletak, tetap saja bukan miliknya sehingga tak boleh diambil. Karena itulah, penanganan orangtua terhadap kebohongan anak, berbeda-beda pula. "Kalau menurut dia kebohongan itu masih bisa ditolerir, dia tidak akan melakukan tindakan apa-apa. Tapi ada keluarga yang baru menemukan suatu kebohongan kecil, sudah heboh dan cemas."

Di sisi lain, pesan Fawzia, orangtua juga harus pandai-pandai membedakan, apakah si anak benar berbohong atau hanya sekadar berimajinasi. "Kadang, kan, anak kecil suka berimajinasi. Meski belum pernah ke kebun binatang, ia bisa cerita, di kebun binatang ada dinosaurus atau naga." Nah, jika ini yang terjadi, "Jangan buru-buru menuduhnya berbohong. Mungkin sebenarnya si kecil ingin mengutarakan keinginannya berkunjung ke kebun binatang." Kalau memang memungkinkan, ajaklah ia ke sana sambil sebelumnya jelaskan padanya tentang fakta mengenai kebun binatang. "Misalnya, di sana tak ada naga dan dinosaurus, melainkan gajah, beruang, dan seterusnya. Dengan demikian, anak jadi tahu fakta yang sebenarnya."

PERLU TIDAKNYA HUKUMAN

Bagaimana jika anak memang berbohong dan ia sering melakukannya? Tindakan yang paling tepat adalah memberi tahu dan menasehatinya. "Jelaskan padanya, berbohong lebih buruk dibanding jika ia mengakui kesalahannya. Karena itu, jika anak mengakui kesalahannya, jangan dimarahi. Katakan saja padanya, kita tak setuju dengan perbuatannya dan ia tak boleh mengulanginya di lain waktu," kata Fawzia. Sebab, lanjutnya, "Jika ia sudah mengakui kesalahannya dan tetap dimarahi, justru akan mendorongnya untuk berbohong agar tak kena marah."

Tanamkan pula pada anak, betapa kejujuran lebih berharga daripada kebohongan. "Cuma saja orangtua tetap harus waspada agar si anak tak merasa bahwa ia boleh-boleh saja melakukan perbuatan tak baik asalkan jujur mengakuinya. Anak harus tetap diberi tahu, apa yang boleh dan tidak dilakukannya."

Saat ingin "membongkar" kebohongan anak, tak perlu dilakukan secara gegabah. Fawzia mencontohkan cucunya yang mengaku telah menghabiskan makanannya. "Tante dan omnya langsung teriak, dia bohong." Fawzia pun bertanya pada si cucu, seberapa banyak ia makan sambil menerangkan, anak kecil harus makan banyak agar cepat tumbuh besar. "Jadi, saya tak menuduhnya berbohong. Karena itu, cucu saya akhirnya mengaku, makanannya belum habis sehingga saya minta untuk menghabiskannya. Anak kecil mengerti, kok, kalau kita beri tahu seperti itu."

Justru kalau ia diteriaki "Bohong!" saat tengah berbohong, anak akan lantas menyangkalnya dengan berkata, "Aku nggak bohong, kok!" untuk memperkuat kebohongannya. "Itu adalah bentuk pertahanan dirinya." Jadi, lanjut Fawzia, walaupun kita tahu ia berbohong, jangan langsung menekan si kecil. "Di sisi lain, jelaskan pula padanya bahwa perbuatannya itu tidak betul." Mengoreksi kebohongan, bisa juga dilakukan oleh lingkungan si anak.

Misalnya, pada temannya ia mengaku memiliki boneka baru. "Mana buktinya?" kata si teman. Jadilah ia harus membuktikan kebenaran ucapannya. Kalau tak bisa, ia pasti dikatakan pembohong oleh temannya. "Dari situ anak akan belajar, jika ia tak bisa membuktikan ucapannya, ia telah berbohong dan berbohong itu tak ada manfaatnya."

Soal hukuman pada anak yang berbohong, menurut Fawzia, perlu dilakukan jika kebohongan yang dilakukan anak sudah membahayakan, memalukan, atau merugikan orang lain. "Tentunya tak perlu berlebihan. Beri saja hukuman yang bersifat mengurangi kesenangannya. Misalnya, ia harus berdiri di pojok ruangan untuk jangka waktu tertentu, uang sakunya dikurangi, atau tidak boleh menonton teve selama seminggu. Dengan pemberian hukuman, anak jadi mengerti, itulah konsekuensi yang harus diterimanya jika ia berbohong."

Sumber: tabloid-nakita.com